TVXQ!(東方神起) _ 믿기 싫은 이야기(How Can I)

the lyrics

teutji marasseoya hal yaegi

oneul harujjeumeun

itgo nawado choasseul cheonhwa

malmuni makhineun yaegi

eochapi nae maeumeun

sanggwan eomneun yaegi

 

ottohke neoreul ijeulkka

ijeuryeogo aereul sseobolkka

dashi toragalsun opseulkka

amu maldo kkeonaelsu ga opseotteon

uri majimak yaegi

 

saranghanda mareul haesseulttaen

nan meomchwo boryeoggo

nan kaseumi tteojiltethaenneunde

jigeum nan meomchwo beorigo

ne daeum yaegireul

kidarilbbuniya

 

ottohke neoreul ijeulkka

ijeuryeogo aereul sseobolkka

dashi teoragalsun opseulkka

ottohke do apeugiman han yaegi

geuman hajaneun yaegi

 

meomchwolsuman itdamyeon

jiulsuman itdamyeon

dashi teoragandamyeon

cheoeum mannan geunallo

 

ottohke neoreul ijeulkka

ijeuryeogo aereul sseobolkka

dashi teoragalsun opseulkka

ibeul maneun chaero nunmul heullineun

itgi shilheun iyagi

 

ottohke neoreul ijeulkka

ijeuryeogo aereul sseobolkka

dashi teoragalsun opseulkka

yeojeonhi neol saranghagi ttaemune

kkume seorado mitgi silheun iyagi

TVXQ!(東方神起) _ 왜 (Keep Your Head Down) _ MusicVideo

SISTEM RANGKA DAN OTOT MANUSIA

 

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 2

(SISTEM RANGKA DAN OTOT MANUSIA)

Disusun Oleh:

Nama/NPM                 : 1. Agustinus                / 30408063

2. Dery Indra              / 30408266

3. Nadya Jeans           / 30408928

4. Taruna Jaya            / 30408818

Kelompok                    : I (Satu)

Hari/Tanggal                 : Sabtu / 27 November 2010

Shift                             : I (Satu)

Asisten Pembimbing      : Bramastha Bintang

 

 

LABORATORIUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

JAKARTA

2010

 

ABSTRAKSI

Agustinus (30408063), Dery (30408266), Nadya Jeans (30408928), Taruna Jaya (30408818)

SISTEM RANGKA DAN OTOT MANUSIA

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2009 – 2010.

Kata Kunci: Rangka Manusia, Otot Manusia, Pelayan restoran

 

Manusia dalam beraktivitas bergerak dengan anggota tubuh. Anggota tubuh itu adalah rangka dan otot. Tanpa rangka dan otot tersebut manusia akan sulit untuk melakukan aktivitasnya karena manusia bergerak dengan rangka dan otot tersebut. Sistem rangka adalah suatu sistem organ yang memberikan dukungan fisik pada makhluk hidup.           Sedangkan otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi.

Proses kerja dari pelayan restoran ialah jika ada pengunjung yang memesan makanan maka mereka akan mengantarkan makanan tersebut kepada pengunjung dan meletakkannya pada meja pengunjung yang memesan makanan tersebut. Pada saat pelayan mengantarkan makanan kepada pengunjung ada dua cara membawanya yaitu dengan tangan kosong dan menggunakan nampan.

Bagian tubuh dari pelayan restoran yang paling mengalami masalah pada 12 bulan terakhir adalah leher dan bahu kanan. Lalu pelayan restoran tidak pernah tidak dapat bekerja karena masalah pada bagian tubuhnya. Dalam 7 hari terakhir bagian tubuh yang paling sering sakit ialah bagian leher. Berarti terdapat banyak keluhan pada bagian leher dan bahu kanan pada pelayan restoran. Penyakit yang mungkin terjadi pada pelayan restoran adalah kyphosis, stiff dan kram otot.

 

(Daftar Pustaka 1994 – 2010)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Manusia dalam beraktivitas atau melakukan pekerjaannya membutuhkan pergerakan. Pergerakan pada manusia disebakan karena adanya rangka dan otot pada tubuh manusia. Tubuh manusia adalah faktor yang sangat penting dalam aktivitas dan pekerjaan manusia tersebut. Organ tubuh jika mengalami sakit maka akan menghambat aktivitas dari seseorang. Betapa sangat pentingnya rangka dan otot manusia itu jika otot atau rangka tersebut mengalami sakit atau masalah maka aktivitas dari seseorang dapat terganggu bahkan dapat terhenti. Salah satu bahasan pada ergonomi adalah sistem rangka dan otot manusia. Sistem rangka dan otot manusia tersebut dapat membantu mengetahui bagian rangka dan otot manusia.

Pelayan restoran adalah salah satu bentuk pekerjaan manusia yang memiliki banyak aktivitas. Walaupun begitu jarang sekali diperhatikan bagaimana proses kerja dari pelayan restoran tersebut. Bagian tubuh dari pelayan restoran ini juga banyak bergerak dan hampir semuanya. Diharapkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara pada pelayan restoran tersebut dapat diketahui bagaimana proses mereka bekerja. Diketahui juga bagian-bagian tubuh mana saja yang paling sering mengalami masalah beserta sebabnya. Perbaikan cara kerja agar bagian tubuh yang mengalami masalah tersebut dapat berkurang juga dapat diketahui.

 

1.2       Perumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dari latar belakang dapat dirumuskan pada perumusan masalah. Perumusan masalah pada modul sistem rangka dan otot manusia ini adalah apa saja keluhan yang dialami pelayan restoran dan bagaimana perbaikan posisi kerja agar pelayan restoran tidak mengalami keluhan.

 

 

1.3       Pembatasan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam laporan akhir praktikum tentang Sistem Rangka dan Otot Manusia lebih jelas dengan adanya batasan-batasan masalah. Batasan-batasan masalahnya sebagai berikut:

  1. Tempat dan waktu

Praktikum hanya dilaksanakan di Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi pada hari Senin, tanggal 22 November 2010  pada pukul 13.00 WIB bertempat di Universitas Gunadarma

  1. Operator

Operator yang diamati dalam praktikum kali ini hanya 4 orang saja.

  1. Pekerjaan yang diamati

Pekerjaan yang diamati adalah pekerjaan dari pelayan restoran.

  1. Bagian tubuh yang diamati

Bagian tubuh yang diamati hanya leher, bahu kanan, bahu kiri, sikku kanan, siku kiri, punggung atas, punggung bawah, pergelangan tangan kanan, pergelangan tangan kiri, paha, lutut dan pergelangan kaki.

  1. Tempat yang diamati

Tempat diambilnya pengambilan data ialah rumah makan Red Crispy dan Waroeng Steak and Shake.

 

1.4       Tujuan

Penulisan laporan akhir ini memiliki beberapa tujuan yang ingin diketahui. Berikut ini adalah tujuannya:

  1. Mengetahui keluhan dari pelayan restoran tersebut.
  2. Mengetahui potensi penyakit yang mungkin terjadi pada pelayan restoran.
  3. Mengetahui perbaikan posisi kerja agar pelayan restoran tidak mengalami keluhan lagi.

 

1.5        Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibuat untuk mempermudah pembaca dalam memahami serta mengambil kesimpulan dari pembahasan dalam Laporan Akhir Sistem Rangka dan Otot Manusia Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini, yang terdiri dari 5 (lima) bab. Berikut adalah sistematikanya:

BAB I     PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, perumusan masalah dari modul Sistem Rangka dan Otot Manusia, tujuan diadakannya praktikum Sistem Rangka dan Otot Manusia. Pembatasan masalah di dalam praktikum Sistem Rangka dan Otot Manusia juga terdapat dalam bab ini. Terakhir sistematika penulisan dari Laporan Akhir Sistem Rangka dan Otot Manusia Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini.

BAB II   LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan mengenai ringkasan teori dan materi-materi yang bersangkutan dari modul Sistem Rangka dan Otot Manusia.

BAB III PENGUMPULAN DATA

Bab ini memaparkan tentang flowchart pengambilan data beserta penjelasannya. Terdapat juga peralatan yang digunakan selama pengambilan data beserta fungsinya. Serta data-data kusioner body map.

BAB IV  PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Bab ini berisi mengenai pembahasan dan analisis. Pembahasan berisi profil pekerja, proses kerja, dan pengolahan data body map. Analisis berisi analisis posisi kerja, analisis otot dan rangka yang berpotensi mengalami keluhan, analisis hasil pengolahan data body map, analisis potensi yang mungkin terjadi dan usulan posisi kerja terbaik.

BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi mengenai kesimpulan yang didapat dari pembahasan dan analisis. Kesimpulan juga berisi saran-saran yang diperlukan pada pelaksanaan praktikum Analisis perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1       Dasar Teori Sistem Gerak Manusia

Gerak adalah suatu tanggapan terhadap rangsangan baik dari dalam maupun dari luar. Gerak dapat berupa gerakan sebagian anggota tubuh maupun seluruh tubuh, misalnya pindah  tempat. Gerak pada manusia disebabkan oleh kontraksi otot yang menggerakan tulang. Jadi, gerak merupakan kerja sama antara tulang dan otot. Tulang disebut alat gerak pasif karena hanya mengikuti kendali otot, sedangkan otot disebut alat gerak aktif karena mampu berkontraksi, sehingga mampu menggerakan tulang. (D.A. Pratiwi, Sri Maryati, dkk,  2004)

Otot bekerja dengan cara berkontraksi dan relaksasi, yang memerlukan energi dan melibatkan zat-zat kimia. Sistem gerak dapat mengalami gangguan akibat kelainan atas penyakit. Saat ini, berbagai teknologi telah dikembangkan untuk mengatasi hal tersebut.

2.2       Pengertian Tulang

Tulang merupakan alat gerak pasif karena digerakkan oleh otot. Otot merupakan gerak aktif  karena mempunyai kemampuan berkontraksi sehingga mampu menggerakan tulang. Gerakan tubuh terjadi karena adanya kerjasama antara tulang dan otot. Otot dapat berkontraksi  karena adanya kontraksi. (Ike Sabariah, 1999)

Tulang di dalam tubuh dapat berhubungan secara erat atau tidak erat. Tulang mempunyai peranan penting karena gerak tidak akan terjadi tanpa tulang. Rangka tubuh manusia memiliki fungsi utama sebagai berikut:

  1. Memberi bentuk tubuh. Rangka menyediakan kerangka bagi tubuh sehingga menyokong dan menjaga bentuk tubuh.
  2. Tempat melekatnya otot tulang-tulang yang menyusun rangka tubuh manusia   menjadi tempat melekatnya otot. Tulang dan otot ini bersama-sama memungkinkan terjadinya pergerakan pada manusia.
  3. Pergerakan pada hewan bertulang belakang (vertebrae) bergantung kepada otot rangka, yang melekat pada rangka tulang.
  4. Sistem kekebalan tubuh sumsum tulang menghasilkan beberapa sel-sel imunitas. Contohnya adalah limfosit B yang membentuk antibodi.
  5. Perlindungan rangka tubuh melindungi beberapa organ vital yakni:
    1. Tulang tengkorak melindungi otak, mata, telinga bagian tengah dan dalam.
    2. Tulang belakang melindungi sumsum tulang belakang.
    3. Tulang rusuk, tulang belakang, dan tulang dada melindungi paru-paru dan jantung.
    4. Tulang belikat dan tulang selangka melindungi bahu.
    5. Tulang usus dan tulang belakang melindungi sistem ekskresi, sistem pencernaan, dan pinggul.
    6. Tulang tempurung lutut dan tulang hasta melindungi lutut dan siku.
    7. Tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki melindungi pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
  6. Produksi sel darah rangka tubuh adalah tempat terjadinya haematopoiesis, yaitu tempat pembentukan sel darah. Sumsum tulang merupakan tempat pembentukan sel darah.
  7. Penyimpanan matriks tulang dapat menyimpan kalsium dan terlibat dalam metabolisme kalsium. Sumsum tulang mampu menyimpan zat besi dalam bentuk ferritin dan terlibat dalam metabolisme zat besi.

Ada dua macam tulang berdasarkan jaringan penyusunnya dan sifat fisiknya yaitu:

  1. Tulang Rawan (kartilago)

Tulang rawan bersifat lentur serta terdiri dari sel-sel rawan yang dapat menghasilkan matriks berupa kodrin. Pada anak-anak, jaringan tulang rawan banyak mengandung sel-sel, sedangkan pada orang dewasa, tulang rawan hanya terdapat pada beberapa tempat, misalnya cuping hidung, cupung telinga, antara tulang rusuk dan tulang dada, sendi-sendi tulang, antara ruas tulang belakang, dan pada cakra epifisis. Tulang rawan pada orang dewasa dibenuk oleh selaput tulang rawan (perikondrium) yang mengandung sel-sel pembentuk tulang rawan (kondroblas).

  1. Tulang (osteon)

Tulang bersifat keras dan berfungsi menyusun berbagai sistem rangka. Tulang tersusun atas bagian-bagian sebagai berikut:

  1. Osteoprogenerator merupakan sel khusus, yaitu derivate mesenkima yang memiliki potensi mitosis dan mampu berdiferensasi menjadi osteoblas. Osteoprogenerator terdapat di bagian terluar membran (periosteu).
  2. Osteoblas merupakan sel tulang muda yang nantinya akan membentuk osteosit.
  3. Osteosit merupakan sel-sel tulang dewasa.
  4. Osteoklas merupakan sel yang berkembang dari monosit dan terdapat di sekitar permukaan tulang. Fungsi osteoklas untuk perkembangan, pemeliharaan, perawatan, dan perbaikan tulang.

Pembentukan tulang terjadi setelah terbentuknya tulang rawan (kartilago). Kartilago dihasilkan oleh sel-sel mesenkima. Setelah kartilago terbentuk, bagian dalamnya akan berongga dan terisi osteoblas. Osteoblas juga menempati jaringan seluruhnya dan membentuk sel-sel tulang.

Sel-sel tulang dibentuk terutama dari arah dalam ke luar, atau proses pembentukannya konsentris. Setiap satuan-satuan sel tulang mengelilingi suatu pembuluh darah dan saraf membentuk suatu sistem yang disebut sistem Havers.

Di sekeliling sel–sel tulang senyawa protein yang akan menjadi matriks tulang. Kelak, ke dalam senyawa protein ini terdapat pula senyawa kapur dan fosforus sehingga matriks tulang rawan akan mengeras. Proses penulangan disebut osifikasi.

Berdasarkan matriksnya, jaringan tulang dibedakan sebagai berikut:

  1. Tulang kompak, merupakan tulang dengan matriks yang padat dan rapat, misalnya tulang pipa.
    1. Tulang spons, merupakan tulang yang matriksnya berongga, misalnya tulang pipih dan tulang-tulang pendek.

Berdasarkan bentuknya, terdapat tiga macam bentuk utama tulang yang menyusun rangka tubuh, yaitu:

  1. Tulang Pipa (Tulang Panjang)

Tulang pipa berbentuk tabung dan pada umumnya berongga. Diujung tulang pipa terjadi perluasan yang berfungsi untuk berhubungan dengan tulang lain. Contoh tulang betis, tulang kering, tulang hasta, dan tulang pengumpil.

Tulang pipa terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian tengah disebut diafisis, bagian ujung disebut epifisis, dan antara  epifisis dan diafisis disebut cakra epifisis. Pada anak-anak, cakra epifisis berupa kartilago yang mengandung osteoblas, dan pada orang dewasa yang sudah bertambah tinggi lagi, cakra epifisis sudah menulang. Osteoblas menempati rongga yang disebut sumsum tulang.

  1. Tulang Pipih

Tulang pipih tersusun atas dua lempengan tulang kompak dan tulang spons yang di dalamnya terdapat tulang sumsum. Kebanyakan tulang pipih menyusun dinding rongga, sehingga sering rongga berfungsi sebagai pelindung atau untuk memperkuat. Contoh tulang rusuk, tulang ikat, dan tulang  tengkorak.

  1. Tulang Pendek

Tulang pendek berbentuk kubus dan hanya ditemukan pada pangkal kaki, pangkal lengan, dan ruas-ruas tulang belakang.

  1. Tulang Tidak Berbentuk

Tulang tidak berbentuk memiliki bentuk yang tidak tertentu. Tulang ini terdapat di wajah dan tulang belakang.

Tulang-tulang pada manusia selain menyusun rangka, juga mempunyai fungsi lain, yaitu:

  1. Memberi bentuk tubuh.
  2. Melindungi alat tubuh yang vital.
  3. Menahan dan menegakkan tubuh.
  4. Tempat perlekatan otot.
  5. Tempat menyimpan mineral.
  6. Tempat pembentukan sel darah.
  7. Tempat menyimpan energi, yaitu simpanan lemak yang ada di sumsum kuning

Tulang dalam tubuh berhubungan secara erat atau tidak erat. Hubungan antar tulang disebut artikulasi. Untuk dapat bergerak diperlukan struktur yang khusus (sendi) yang terdapat pada artikulasi. Terbentuknya sendi dapat dimulai dari kartilago di daerah sendi. Mula-mula kartilago lalu kedua ujungnya akan diliputi jaring ikat. Kemudian kedua ujung kartilago membentuk sel-sel tulang, keduanya diselaputi sendi (membran sinovial) yang liat dan menghasilkan minyak pelumas tulang yang disebut minyak sinovial. Di dalam rangka manusia terdapat tiga jenis hubungan antar tulang, yaitu:

  1. Sinartrosis

Sinartrosis adalah hubungan antar tulang yang tidak memilki celah sendi. Hubungan antar tulang ini dihubungkan dengan erat oleh jaringan serabut sehingga sama sekali tidak bisa digerakkan. Ada dua tipe utama sinatrosis, yaitu suture dan sinkandrosis. Suture adalah hubungan antar tulang yang dihubungkan dengan jaringan ikat serabut padat, contohnya pada tengkorak. Sinkondrosis adalah hubungan antar tulang yang dihubungkan oleh kartilago hialin, contohnya hubungan antara epifisis dan diafisis pada tulang dewasa.

  1. Amfiartrosis

Amfiartrosis adalah sendi yang dihubungkan oleh kartilago sehingga memungkinkan untuk sedikit gerakan. Amfiartrosis dibagi menjadi dua, yaitu simfisis dan sindesmosis. Pada simfisis, sendi dihubungkan oleh kartilago serabut yang pipih, contohnya pada sendi intervertebral dan simfisis pubik. Pada sindesmosis, sendi dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligamen. Contohnya sendi antar tulang betis dan tulang kering.

  1. Diartrosis

Diartrosis adalah hubungan antar tulang yang kedua ujungnya tidak dihubungkan oleh jaringan sehingga tulang dapat digerakkan. Diartrosis disebut juga hubungan sinovial yang dicirikan oleh keleluasaannya dalam bergerak dan fleksibel. Sendi ada yang dapat bergerak satu arah dan ada pula yang bergerak ke beberapa arah. Diartrosis dicirikan memiliki permukaan sendi dibalut oleh selaput atau kapsul jaringan ikat fibrous. Bagian dalam kapsul dibatasi oleh membran jaringan ikat yang disebut membran sinovial yang menghasilkan cairan pelumas untuk mengurangi gesekan. Kapsul fibrous ada yang diperkuat oleh ligamen dan ada yang tidak. Di dalam kapsul biasa terdapat bantalan kartilago serabut.

Hubungan antar tulang yang bersifat diartrosis contohnya adalah sebagai berikut:

  1. Sendi Peluru

Kedua ujung tulang berbentuk lekuk dan bongkol. Bentuk ini memungkinkan gerakan yang lebih bebas dan dapat berporos tiga, misalnya sendi pada gelang bahu dan gelang panggul.

  1. Sendi Engsel

Kedua ujung tulang berbentuk engsel dan berporos satu, misalnya pada siku, lutut, mata kaki, dan ruas antar jari.

  1. Sendi Putar

Ujung yang satu dapat mengitari ujung tulang yang lain. Bentuk seperti ini memungkinkan untuk gerak rotasi dengan satu poros, misalnya antara tulang hasta dan tulang pengumpil dan antara tulang atas dengan tulang tengkorak.

  1. Sendi Ovoid

Sendi ini memungkinkan gerakan dua dengan gerak kiri dan kanan, dan muka belakang. Ujung tulang yang satu berbentuk elips, misalnya antara tulang pengumpil dan tulang pergelangan tangan.

  1. Sendi Pelana atau Sela

Kedua ujung tulang membentuk sendi yang berbentuk pelana dan berporos dua, tetapi dapat bergerak lebih bebas, seperti orang naik kuda. Misalnya sendi antara tulang telapak tangan dan tulang pergelangan tangan pada ibu jari.

  1. Sendi Luncur

Kedua ujung tulang agak rata sehingga menimbulkan gerakan menggeser dan tidak berporos, contohnya sendi antar tulang pergelangan tangan, antar tulang pergelangan kaki, antar tulang selangka, dan tulang belikat.

 

2.3 Sistem Rangka

Rangka (skeletal) bagian tubuh yang termasuk tulang, sendi, dan tulang rawan (kartilago) sebagai tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi. Rangka tulang adalah jaringan ikat yang keras dan kaku (jaringan penyokong), banyak mengandung mineral, zat perekat dan zat kapur. Fungsi dari sistem rangka adalah sebagai berikut.

  1. Penyangga: berdirinya tubuh, tempat melekatnya ligamen-ligamen, otot, jaringan lunak, dan organ.
    1. Penyimpanan mineral (kalsium dan fosfat) dan lipid (yellow marrow).
    2. Produksi sel darah (red marrow).
    3. Pelindung: membentuk rongga melindungi organ yang halus dan lunak.

5.   Penggerak: dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka saat bergerak, dengan adanya persendian. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_rangka)

Tulang-tulang dalam tubuh membentuk sistem rangka kemudian sistem rangka ini bersama-sama menyusun kerangka tubuh. Secara garis besar, rangka (skeleton) manusia dibagi menjadi dua, yaitu rangka aksial dan rangka apendikuler.

  1. Rangka Aksial

Rangka aksial terdiri dari tulang belakang, tulang tengkorak dan tulang rusuk. Lebih mendalam mengenai tulang-tulang dalam sistem rangka.

  1. Rangka Apendikuler

Rangka apendikuler terdiri atas pinggul, bahu, telapak tangan, tulang-tulang lengan, tungkai, dan telapak kaki. Secara umum, rangka apendikuler menyusun alat gerak, yaitu tangan dan kaki yang dibedakan atas rangka bagian atas dan rangka bagian bawah. Tulang rangka apendikuler bagian atas dan bawah terdiri atas beberapa jumlah tulang.

 

2.4 Bagian-Bagian Rangka Manusia

Tubuh manusia terdiri dari rangka yang tersusun sebagai satu kesatuan. Adapun bagian-bagian rangka manusia adalah sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Rangka Manusia

(Sumber : Jean Claude dan Ariane Archamault. Visual Dictionary, 1994)

2.5       Pengertian Otot

Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi. Otot memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika sedang berelaksasi. Kontraksi terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan, sedangkan relaksasi otot terjadi jika otot sedang beristirahat. Otot memiliki 3 karakter, yaitu:

  1. Kontraktibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek dari ukuran semula, hal ini terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan.
  2. Kontrabilitas, yaitu kemampuan untuk memanjang dan lebih panjang dari ukuran semula.
  3. Elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada bentuk semula.

Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filamen aktin dan filamen miosin. Filamen aktin tipis dan filamen miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril. Miofibril menyusun serabut otot, dan serabut-serabut menyusun satu otot.

Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja, dan lokasinya dalam tubuh, otot dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Otot Lurik (Otot Rangka)

Otot Lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja dibawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunyai jalur-jalur melintang gelap (anisotrup) dan terang (isotrup) yang tersusun berselang-seling. Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunyai banyak inti. Otot rangka dapat berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali-kali. Otot rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia fropia dibungkus ke selaput fasia superfasialis. Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari bagian:

  1. Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang mengembang.
  1. Urat otot (tendon), merupakan kedua ujung yang mengecil.

Urat otot (tendon) tersusun dari jaringan ikat dan bersifat keras serta liat. Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai berikut:

  1. Origi merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah kedudukannya ketika otot berkontraksi.
  2. Inersio merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika otot berkontraksi.

Otot yang dilatih terus-menerus akan membesar dan mengalami hipertrofit, sebaliknya jika otot tidak digunakan (tidak ada aktivitas) akan mengalami kisut atau mengalami atrofi.

  1. Otot Polos

Otot Polos disebut juga otot tak sadar atau otot alat dalam (alat viresal). Otot polos tersusun dalam sel-sel yang berbentuk kumpulan halus. Masing-masing sel memilki satu inti yang letaknya di tengah, kontraksi otot polos tidak menurut kehendak, tetapi persaraf oleh sarf otonom. Otot polos terdapat alat-alat dalam tubuh, misalnya pada:

  1. Dinding saluran pencernaan
  2. Saluran pernafasan
  3. Saluran kencing dan kelamin
  4. Otot Jantung

Otot Jantung mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik hanya saja serabutnya bercabang-cabang dan saling beranyaman serta persaraf oleh saraf otonom. Letak jantung disebut juga otot lurik yang bekerja tidak menurut kehendak.

Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan yang berurutan. Rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memperkuat rangsangan kedua. Dengan demikian terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum. Tonus yang maksimum terus menerus disebut tetanus.

Berdasarkan sifat kerja otot, otot dibedakan atas 2 macam, yaitu Antagonis dan Sinergis, yaitu:

  1. Antagonis

Antagonis adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah:

  1. Ekstensor (meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot biseps.
  2. Abduktor (menjauhi badan), misalnya gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.
  3. Depresor (ke bawah) dan elevator (ke atas), misalnya gerak kepala merunduk dan menengadah.
  4. Supindor (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak tangan menelungkup dan menengadah
  5. Sinergis

Sinergis adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah, contohnya pronator teres dan pronator kuadratus.

2.6       Kelainan dan Gangguan pada Tulang

Kelainan dan gangguan pada tulang sangat menggangu proses gerakan yang normal. Kelainan dan gangguan pada tulang dapat terjadi karena:

  1. Kekurangan Vitamin D

Kekurangan vitamin D pada anak-anak menyebabkan rakhitis, biasanya terlihat pada pertumbuhannya yang terganggu dan kaki berbentuk O atau X. Pada orang dewasa, kekurangan vitamin D menyebabkan osteomalasi atau kekurangan zat kapur pada tulang.

  1. Kecelakaan

Gangguan pada tulang dapat berupa memar dan fraktura. Memar merupakan gangguan akibat sobeknya selaput sendi sedangkan fraktura adalah patah tulang. Fraktura dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

  1. Patah tulang tertutup, bila tulang yang patah tidak merobek kulit.
    1. Patah tulang terbuka, bila tulang patah merobek kulit dan mencuat keluar.
  2. Fisura, bila tulang hanya retak.
  3. Kebiasan Yang Salah

Kebiasaan duduk yang salah atau membawa beban disatu sisi tubuh saja dapat menyebabkan kelainan pada tulang seperti:

  1. Lordosis, terjadi jika tulang leher dan panggul terlalu bengkok ke depan.
  2. Kifosis, terjadi jika tulang pinggung dan tungging terlalu bengkok ke belakang.
  3. Skoliosis, terjadi jika ruas-ruas tulang belakang bengkok ke samping.
  4. 4. Nekrosa

Terjadi jika selaput tulang (periosteum) rusak sehingga bagian tulang tidak memperoleh makanan, lalu mati dan mengering.

  1. Gangguan Persendian

Dalam tubuh manusia terdapat persendian yang berfungsi menggerakkan antar tulang. Adapun macam-macam gangguan persendian adalah sebagai berikut:

  1. Dislokasi, disebabkan bergesernya sendi dari kedudukan semula karena jaringan penggantungnya (ligamentum) sobek.
  2. Ankilosis adalah suatu keadaan persendian yang tidak dapat digerakkan karena seolah-olah menyatu.
  3. Terkilir, terjadi karena gerakan tiba-tiba atau gerakan yang jarang atau sulit dilakukan yang menyebabkan tertariknya ligamentum ke posisi yang tidak sesuai, tetapi sendi tidak bergeser.
  4. Artritis, yaitu peradangan yang terjadi pada sendi. Adapun pembagian artritis adalah sebagai berikut:

1)      Artritis Gout, terjadi karena adanya timbunan asam urat pada sendi-sendi kecil terutama jari-jari tangan. Akibatnya ruas jari membesar.

2)      Osteoartritis, merupakan gangguan pada sendi yang digerakkan karena menipisnya tulang rawan sehingga menyebabkan degenerasi.

3)      Artritis Eskudatif, terjadi karena rongga sendi terisi cairan getah radang yang disebabkan oleh kuman.

4)      Artritis Sika adalah berkurangnya minyak sendi yang menyebabkan rasa nyeri saat tulang digerakkan.

  1. Serangan kuman pada sendi
  2. Ifeksi Gonorhoe dan Sifilis dapat menyerang persendian sehingga sendi menjadi kaku.
  3. Layuh sendi adalah keadaan tidak bertenaga pada sendi yang disebabkan karena adanya layuhnya tulang akibat infeksi sifilis ketika bayi dalam kandungan.

 

2.7       Kelainan pada Otot

Kelainan yang terjadi pada otot dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  1. Atrofi

Atrofi merupakan suatu keadaan mengecilnya otot sehingga kehilangan kemampuan berkontraksi.

  1. Kelelahan Otot

Kelelahan otot terjadi karena terus menerus melakukan aktivitas, dan bila ini berlanjut dapat terjadi kram.

  1. Tetanus

Tetanus adalah otot yang terus menerus berkontraksi (tonus atau kejang) akibat serangan bakteri clostridium tetani.

  1. Miestenia Gravis

Miestenia gravis adalah melemahnya otot secara berangsur-angsur sehingga menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti.

  1. Kaku pada leher (stiff)

Stiff adalah peradangan otot trapesius leher sehingga leher terasa kaku. Stiff terjadi akibat kesalahan gerak.

BAB III

PENGAMBILAN DATA

3.1 Flowchart Pengambilan Data

Proses pengambilan data untuk modul sistem rangka dan otot manusia  tahapannya dijelaskan dalam bentuk flowchart. Setiap tahapan dalam flowchart merupakan prosuder yang dilakukan saat melakukan pengambilan data. Berikut dapat dilihat pada gambar 3.1 untuk lebih jelas tentang tampilan flowchart pengambilan data.

 

 

Gambar 3.1 Flowchart Pengambilan Data

 

Langkah pertama dalam tahapan pengambilan data adalah penentuan subyek pengambilan data yakni mengamati kerja dari seorang pelayan restoran ditempat kerjanya. Setelah subyek pengambilan data jenis sudah ditentukan, dilanjutkan dengan menentukan tempat, yakni memilih jenis restoran yang memiliki pelayan restoran lebih dari 2 orang pelayan dan restoran tersebut terlihat selalu ramai dikunjungi oleh konsumen, lalu mengunjungi restoran yang sudah ditentukan dan menentukan jumlah pelayan restoran yang akan diambil datanya, yakni 4 orang pelayan restoran. Kemudian 4 orang pelayan tersebut diwawancarai untuk ditanyakan tentang berbagai keluhan dari kondisi fisiknya selama pelayan tersebut bekerja ditempat kerjanya dan wawancara dilakukan untuk setiap pelayan dengan menyertakan data kuesioner body map sebagai daftar pertanyaan dalam wawancara. Data kuesioner body map yang digunakan, jika data wawancara sudah cukup, maka dapat melanjutkan proses berikutnya. Namun jika data wawancara belum mencukupi, maka harus kembali melakukan wawancara ulang.

Langkah selanjutnya, jika data wawancara sudah cukup, selanjutnya memulai proses pengambilan gambar untuk setiap pelayan dan pengambilan video setiap pelayan saat melakukan pekerjaannya. Kemudian jika data pengambilan gambar dan pengambilan video sudah sesuai, maka dapat melanjutkan proses berikutnya. Namun jika data pengambilan gambar dan pengambilan video wawancara belum sesuai, maka harus kembali melakukan pengambilan gambar dan pengambilan video ulang. Langkah terakhir setelah semua proses pengambilan data untuk wawancara dan pengambilan gambar serta video sudah selesai dilakukan, dilanjutkan untuk melakukan pengolahan data dari keseluruhan data yang diperoleh.

 

3.2 Alat dan Fungsinya

Alat yang digunakan beserta penjelasan fungsinya dalam proses pengambilan data sistem rangka dan otot manusia, dengan melakukan pengamatan langsung dilapangan adalah sebagai berikut.

  1. Handphone, digunakan untuk merekam kegiatan operator selama bekerja dan mengambil gambar pada saat operator melakukan kegiatan.
  2. Data kuesioner body map, digunakan untuk mencatat seluruh data hasil pengambilan data untuk setiap operator.

 

3.3 Data Kuesioner Body Map

Data yang diambil pada saat operator diwawancarai untuk ditanyakan tentang berbagai keluhan yang dirasakan untuk setiap operator yaitu pelayan restoran selama bekerja ditempat kerjanya. Berikut tampilan data kuesioner body map untuk setiap operator, mulai dari operator 1, 2, 3, dan 4.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.1 Data Kuisioner Body Map Operator 1

Nama

Usia

Berat Badan

: Tri Nugroho

: 23 Tahun

: 53 Kilogram

Berat Beban yang Diangkat

Lamanya Bekerja

Waktu Kerja

: 2 kg

: 5 Tahun

: 8 Jam

Posisi Kerja : Pelayan  
Pernahkah Anda Selama 12

Bulan terakhir mengalami

Masalah (gatal, sakit, tidak nyaman) pada :

Pernahkah anda

Selama 12 bulan terakhir tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang normal anda lakukan akibat masalah tersebut

Pernahkah Anda mengalami masalah selama 7 hari terakhir
Leher

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kiri

Ya                       Tidak

Punggung Atas

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Punggung Bawah

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kanan

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Ya                       Tidak

Paha

Ya                       Tidak

Lutut

Ya                       Tidak

Pergelangan Kaki

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Tabel 3.2 Data Kuisioner Body Map Operator 2

Nama

Usia

Berat Badan

: Tomas Hartono

: 35 Tahun

: 46 Kilogram

Berat Beban yang Diangkat

Lamanya Bekerja

Waktu Kerja

: 2 kg

: 1,3 Tahun

: 11 Jam

Posisi Kerja : Pelayan  
Pernahkah Anda Selama 12

Bulan terakhir mengalami

Masalah (gatal, sakit, tidak nyaman) pada :

Pernahkah anda

Selama 12 bulan terakhir tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang normal anda lakukan akibat masalah tersebut

Pernahkah Anda mengalami masalah selama 7 hari terakhir
Leher

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kiri

Ya                       Tidak

Punggung Atas

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Punggung Bawah

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kanan

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Ya                       Tidak

Paha

Ya                       Tidak

Lutut

Ya                       Tidak

Pergelangan Kaki

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Tabel 3.3 Data Kuisioner Body Map Operator 3

Nama

Usia

Berat Badan

: Nanang

: 22 Tahun

: 65 Kilogram

Berat Beban yang Diangkat

Lamanya Bekerja

Waktu Kerja

: 2 kg

: 1 Tahun

: 11 jam

Posisi Kerja : Pelayan  
Pernahkah Anda Selama 12

Bulan terakhir mengalami

Masalah (gatal, sakit, tidak nyaman) pada :

Pernahkah anda

Selama 12 bulan terakhir tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang normal anda lakukan akibat masalah tersebut

Pernahkah Anda mengalami masalah selama 7 hari terakhir
Leher

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kiri

Ya                       Tidak

Punggung Atas

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Punggung Bawah

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kanan

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Ya                       Tidak

Paha

Ya                       Tidak

Lutut

Ya                       Tidak

Pergelangan Kaki

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Tabel 3.3 Data Kuisioner Body Map Operator 4

Nama

Usia

Berat Badan

: Hendra

: 17 Tahun

: 45 Kilogram

Berat Beban yang Diangkat

Lamanya Bekerja

Waktu Kerja

: 2 kg

: 1 Tahun

: 11 jam

Posisi Kerja : Pelayan  
Pernahkah Anda Selama 12

Bulan terakhir mengalami

Masalah (gatal, sakit, tidak nyaman) pada :

Pernahkah anda

Selama 12 bulan terakhir tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang normal anda lakukan akibat masalah tersebut

Pernahkah Anda mengalami masalah selama 7 hari terakhir
Leher

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Bahu Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kanan

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

Siku Kiri

Ya                       Tidak

Punggung Atas

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Punggung Bawah

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kanan

Ya                       Tidak

Pergelangan Tangan Kiri

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

Ya                       Tidak

Paha

Ya                       Tidak

Lutut

Ya                       Tidak

Pergelangan Kaki

Ya                       Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                              Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

 

Ya                       Tidak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

4.1 Pembahasan

Bagian ini mencakup beberapa penjelasan diantaranya profil pekerja, proses kerja, dan pengolahan data body map. Berikut adalah pembahasannya:

 

4.1.1 Profil Pekerja

Pekerja yang diamati pada jenis pekerjaanya yakni pelayan restoran yang terdiri atas 4 orang pelayan, yang biasa bekerja melayani konsumen yang datang ke tempat restoran sebagai tempat kerjanya. Berikut ini penjelasan profil untuk 4 orang pelayan restoran tersebut.

  1. Nama pelayan restoran 2 adalah Tomas Hartono, alamat Pondok Gede Permai blok B 16 no. 21 RT 08 / RW 08, umurnya 35 tahun, berat badan 46 kg, lamanya bekerja 1 tahun 3 bulan, posisi kerja pelayan restoran, berat yang biasa diangkat adalah 2 kg, dan waktu bekerja adalah 11 jam.

 

 

Gambar 4.1 Pelayan 1

  1. Nama pelayan restoran 3 adalah Nanang Suharyono, alamat Pondok Pekayon Indah 29 no. 31, umurnya 22 tahun, berat badan 65 kg, lamanya bekerja 1 tahun, posisi kerja pelayan restoran, berat yang biasa diangkat adalah 2 kg, dan waktu bekerja adalah 11 jam.

 

Gambar 4.2 Pelayan 2

  1. Nama pelayan restoran 4 adalah Hendra, alamat Pondok Pekayon Indah 29 no. 31, umurnya 17 tahun, berat badan 45 kg, lamanya bekerja 1 tahun, posisi kerja pelayan restoran, berat yang biasa diangkat adalah 2 kg, dan waktu bekerja adalah 11 jam.

 

Gambar 4.3 Pelayan 3

  1. Nama pelayan restoran 1 adalah Tri Nugroho, alamat Jalan Raya Kalimalang no 43 RT 02/03,  umurnya 23 tahun, berat badan 53 kg, lamanya bekerja 5 tahun, posisi kerja pelayan restoran, berat yang biasa diangkat adalah 2 kg, dan waktu bekerja adalah 8 jam.

 

Gambar 4.4 Pelayan 4

 

4.1.2 Proses Kerja

Aktivitas yang dilakukan oleh keempat pelayan restoran sama. Pertama mereka mengambil makanan yang dipesan pengunjung dari dapur lalu ditaruh dinampan atau menggunakan kedua tangannya.

 

Gambar 4.5 Proses kerja 1

Makanan yang telah siap diantarkan ke pengunjung oleh pelayan restoran tersebut. Proses kerjanya dapat dilihat pada gambar 4.6.

 

 

Gambar 4.6 Proses kerja 2

 

Ketika pelayan restoran telah sampai pada meja pengunjung yang memesan makanan tersebut lalu makanan tersebut diletakkan pada meja. Pelayan tersebut lalu mengucapkan selamat menikmati jika makanan sudah diletakkan di meja.

 

Gambar 4.7 Proses kerja 3


4.1.3 Pengolahan Data Body Map

Tabel 4.1 Data Body Map

Jenis Keluhan Responden Skor

 

Responden Skor Responden Skor

 

Mengalami Masalah Selama 12 Bulan Terakhir Tidak Dapat Mengerjakan pekerjaan selama 12 bulan terakhir Mengalami Masalah selama 7 hari terakhir
Sakit Tidak Sakit Ya Tidak Sakit Tidak Sakit
Sakit pada leher 4 0 4 0 4 0 3 1 3
Sakit pada bahu kanan 3 1 3 0 4 0 0 4 0
Sakit pada bahu kiri 3 1 3 0 4 0 1 3 1
Sakit pada siku kanan 1 3 1 0 4 0 0 4 0
Sakit pada siku kiri 1 3 1 0 4 0 0 4 0
Sakit pada Punggung atas 1 3 1 1 3 1 3 1 3
Sakit pada punggung bawah 2 2 2 1 3 1 2 2 2
Sakit pada pergelangan tangan kanan 1 3 3 0 4 0 0 4 0
Sakit pada pergelangan tangan kiri 2 2 2 0 4 0 1 3 1
Sakit pada paha 1 3 3 0 4 0 2 2 2
Sakit pada lutut 3 1 1 0 4 0 2 2 2

 

Sakit pada pergelangan kaki 3 1 1 1 3 1 2 2 2

Gambar 4.8 Diagram Hasil pengolahan data Body Map


4.2 Analisis

Bagian ini akan menjelaskan mengenai analisis posisi kerja, analisis otot dan rangka yang berpotensi mengalami keluhan, analisis hasil pengolahan data body map, analisi potensi penyakit yang mungkin terjadi, serta usulan posisi kerja yang terbaik. Berikut ini penjelasan dari analisis yang telah disebutkan diatas.

 

4.2.1 Analisis Posisi Kerja

Analisis posisi kerja yang dapat diberikan yaitu nampak kedua tangan tepat untuk memegang beban makanan,  kemudian posisi kedua kaki  tidak rapat dengan kaki kiri didepan dan kaki kaki kanan dibelakang. Sehingga operator tersebut terlihat relaks dengan posisinya memegang piring.

 

Gambar 4.9 Posisi proses kerja 1

Saat operator mengantarkan makanan pada pengunjung dapat dilihat operator memengang makanan dengan kedua tangannya sambil berjalan menuju pengunjung. Operator tampak terbiasa mengantarkan makanan tersebut.

 

 

Gambar 4.10 Posisi Proses kerja 2

Ketika pelayan restoran telah sampai pada meja pengunjung yang memesan makanan tersebut lalu makanan tersebut diletakkan pada meja. Tampak posisi badannya membungkuk posisi tangan menaruh makanan pada meja.

 

Gambar 4.11 Posisi Proses kerja 3

 

4.2.2 Analisis Otot dan Rangka yang Berpotensi Mengalami Keluhan

Analisis otot dan rangka ini ditunjukkan untuk masing-masing posisi proses kerja pada pelayan restoran. Untuk proses kerja pertama yang bagian yang berpotensi mengalami keluhan yaitu otot leher, otot paha, otot bahu dan otot betis.

Otot Paha

Otot betis

Otot bahu

Otot leher

Gambar 4.12 Analisa Otot pada Proses Kerja 1

Pada posisi kerja 1 analisa tulang yang berpotensi mengalami keluhan. Tulang lengan atas, ruas tulang leher, tulang belakang, tulang paha, tulang betis dan tulang tumit adalah bagian yang berpotensi mengalami keluhan.

Gambar 4.13 Analisa Tulang Proses Kerja 1

Pada proses kerja 2 dapat dianalisa otot yang berpotensi mengalami keluhan sama dengan proses kerja 1 karena posisi kerja masih sama yang berbeda hanya operator bergerak saja. Otot yang berpotensi mengalami keluhan yaitu otot leher, otot paha, otot bahu dan otot betis.

 

Otot bahu

Otot leher

Gambar 4.14 Analisis Otot pada Proses kerja 2

Pada proses kerja 2 dapat dianalisa tulang yang berpotensi mengalami keluhan sama dengan proses kerja 1 karena posisi kerja masih sama yang berbeda hanya operator bergerak saja. Tulang lengan atas, ruas tulang leher, tulang belakang, tulang paha, tulang betis dan tulang tumit adalah bagian yang berpotensi mengalami keluhan.

Ruas lengan atas

Ruas tulang belakang

Ruas tulang leher

Gambar 4.15 Analisis Tulang pada Proses kerja 2

Pada proses kerja 3 analisa otot yang berpotensi mengalami keluhan berbeda. Otot yang berpotensi mengalami keluhan yaitu otot leher, otot punggung bawah dan otot tangan.

Otot tangan

Otot Punggung bawah

Otot leher

Gambar 4.16 Analisis Otot pada Proses kerja 3

Pada proses kerja 3 analisa tulang yang berpotensi mengalami keluhan berbeda. Otot yang berpotensi mengalami keluhan yaitu ruas tulang leher, ruas tulang belakang dan tulang siku.

Tulang siku

Ruas tulang belakang

Ruas tulang leher

Gambar 4.17 Analisis Tulang pada Proses kerja 3

4.2.3 Analisis Hasil Pengolahan Data Body Map

Dari pengolahan data dapat dilihat bahwa pada pelayan restoran paling banyak mengalami keluhan selama 12 bulan terakhir yaitu pada leher dan bahu kanan. Hal ini disebabkan karena pada saat bekerja operator dalam keadaan selalu berjaga jika ada pengunjung restoran yang datang. Hal lainnya juga karena mengangkat beban yang terlalu sering.

Selama menjalankan pekerjaannya operator jarang mengalami keluhan. Hal ini karena mereka selalu masuk bekerja. Dan jika mereka sampai tidak masuk disebabkan oleh hal lain seperti sakit gigi, demam, libur bahkan pulang kampung. Punggung atas, punggung bawah dan pergelangan kaki juga dapat menyebabkan operator tidak masuk namun hanya kecil sekali kemungkinannya.

Pada 7 hari terakhir operator paling banyak mengalami keluhan pada leher. Hal ini disebabkan karena pada saat bekerja operator dalam keadaan selalu berjaga jika ada pengunjung restoran yang datang.

4.2.4 Analisis Potensi Penyakit yang Mungkin Terjadi

Analisis yang dapat diambil dari bagian otot dan tulang dari keempat operator yang ditampilkan diatas, bahwa dapat diketahui keluhan yang mungkin timbul pada setiap operator adalah penyakit kyphosis pada bagian tulang, dikarenakan sikap tubuh setiap operator saat menghidangkan makanan diatas meja, harus sedikit membungkuk. Kemudian penyebab lain penyakit kyphosis adalah sikap tubuh setiap operator yang terkadang tidak seimbang saat berdiri dengan beban makanan dikedua tangannya, dengan berat beban makanan yang bisa melebihi kemampuan seorang pelayan yang sewajarnya.

Banyaknya keluhan pada leher dapat juga berpotensi akan penyakit stiff atau kaku pada leher. Adapula kelelahan otot yang terjadi pada operator lama kelamaan dapat menyebabkan kram.

 

4.2.5 Usulan Posisi Kerja Terbaik

Adapun usulan posisi kerja terbaik yang tentunya dapat mengurangi tingkat keletihan dan keluhan yang mungkin timbul pada jangka waktu tertentu, yakni diusahakan sikap tubuh seorang pelayan restoran saat mengantar pesanan makanan dan menghidangkan makanan diatas meja makan kepada konsumen, agar selalu dalam kondisi yang relaks, karena sedikit mengurangi ketegangan pada otot. Selanjutnya posisi kerja yang terbaik, dapat diterapkan dengan tidak memberikan beban yang tidak seimbang hanya untuk salah satu bagian tangan, baik tangan kanan maupun tangan kiri. Kemudian sikap berdiri dan sedikit membungkuk pada setiap pelayan, dapat diusahakan agar posisi kedua kaki juga dalam kondisi seimbang, dalam kata lain tidak ada hanya satu bagian kaki yang menopang beban lebih berat, baik kaki kanan maupun kaki kiri.

Maka dengan usulan posisi kerja terbaik yang dijelaskan diatas, lebih akan bermanfaat kelak bagi setiap pelayan direstoran manapun saat pelayan tersebut bekerja dalam melayani konsumen, terutama jika kondisi restoran sedang ramai dan seorang pelayan dibutuhkan tenaga yang lebih ekstra.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan diambil dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dan menjawab dari tujuan. Berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil:

  1. Terdapat banyak keluhan pada bagian leher, bahu kanan, bahu kiri, punggung atas, lutut dan pergelangan kaki pada pelayan restoran.
  2. Penyakit yang mungkin terjadi pada pelayan restoran adalah bungkuk, stiff dan kram otot.
  3. Usulan posisi kerja yang dapat diberikan yaitu pada saat bekerja pelayan restoran agar lebih rileks agar ototnya tidak terlalu tegang yang dapat menimbulkan keluhan pada otot. Lalu pelayan restoran mengurangi aktivitas membungkung ketika meletakkan makanan pada meja pengunjung.

 

5.2 Saran

Berikut beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar pada proses pengukuran selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Saran yang dapat diberikan adalah data yang diambil lebih banyak agar analisis yang dilakukan tepat karena 4 data saja belum cukup mewakili keluhan yang terjadi pada pelayan restoran.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Pratiwi, D. A, Sri Maryati, dkk. 2004. Biologi SMA Jilid 2 untuk Kelas XI. Erlangga. Jakarta.

Sabariah, Ike. 1999. Biologi 1 untuk SLTP/MTS Kelas 1 Caturwulan 1, 2, dan 3. Ganeca. Bandung.

(Jean Claude dan Ariane Archamault. Visual Dictionary, 1994)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_rangka)

 

 

Fisiologi

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 2

(PENGUKURAN KINERJA FISIOLOGI)

Disusun Oleh:

Nama/NPM                 : 1. Agustinus                / 30408063

2. Dery Indra              / 30408266

3. Nadya Jeans           / 30408928

4. Taruna Jaya            / 30408818

Kelompok                    : I (Satu)

Hari/Tanggal                 : Sabtu / 13 November 2010

Shift                             : I (Satu)

Asisten Pembimbing      : Bramastha Bintang

 

 

LABORATORIUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

JAKARTA

2010

 

ABSTRAKSI

Agustinus (30408063), Dery (30408266), Nadya Jeans (30408928), Taruna Jaya (30408818)

PENGUKURAN KINERJA FISIOLOGI

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2009 – 2010.

Kata Kunci: Fisiologi, konsumsi energi dan oksigen, waktu istirahat, angkat beban.

 

Fisiologi adalah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari tentang fungsi normal dari suatu organisme mulai dari tingkat sel, jaringan, organ, sistem organ hingga tingkat organisme itu sendiri. Dalam fisiologi ini juga dibahas tentang konsumsi energi dan konsumsi oksigen ketika operator bekerja. Lalu waktu yang dibutuhkan operator untuk beristirahat dengan memperhatikan denyut jantung operator. Pada praktikum pekerjaan yang dilakukan operator adalah angkat beban.

Konsumsi energi ketika operator bekerja sebesar 5.52 kcal/menit dan ketika istirahat sebesar 3.35 kcal/menit. Sedangkan konsumsi energi keseluruhan adalah 2.17 kcal/menit dan konsumsi oksigennya adalah 0.045. Waktu istirahat untuk tangan dengan beban 4 kg sebesar 0.13 menit, beban 6 kg sebesar 0.19 menit dan beban 8 kg sebesar 0.19 menit. Sedangkan untuk kaki dengan beban 4 kg sebesar 0.34 menit, beban 6 kg sebesar 0.0325 menit dan beban 8 kg sebesar 0.12 menit. Kecepatan rata-rata denyut jantung untuk tangan dengan beban 4 kg sebesar 91.5 denyut/menit, beban 6 kg sebesar 96.5 denyut/menit dan beban 8 kg sebesar 100.5 denyut/menit. Sedangkan untuk kaki dengan beban 4 kg sebesar 97 denyut/menit, beban 6 kg sebesar 100.5 denyut/menit dan beban 8 kg sebesar 108.5 denyut/menit. Pada tangan dengan beban 4 kg suhu naik sebesar 0.1 derajat, beban 6 kg suhu turun sebesar 0.5 derajat dan beban 8 kg suhu naik sebesar 0.1 derajat. Sedangkan pada kaki dengan beban 4 kg suhu naik sebesar 0.5 derajat, beban 6 kg suhu naik sebesar 1.1 derajat dan beban 8 kg suhu turun sebesar 0.4 derajat.

 

(Daftar Pustaka 1993 – 2010)

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik bekerja pasti membutuhkan energi. Energi tersebut dapat berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Pada saat melakukan aktivitas tersebut pula manusia mengkonsumsi oksigen. Oksigen didapatkan manusia dengan cara bernafas. Salah satu bahasan dalam ergonomi yaitu pengukuran kinerja fisiologi yang dapat membantu mengetahui konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan manusia ketika bekerja.

Mengukur kebutuhan konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhan manusia dapat menggunakan pengukuran tidak langsung. Pengukuran tidak langsung ini menggunakan denyut jantung manusia sebagai salah satu variable dalam menghitungnya. Dalam praktikum kali ini dipilihlah pengangkatan beban yang memiliki beberapa variabel. Mengangkat beban adalah salah satu aktivitas yang membutuhkan energi dan konsumsi oksigen dan menyebabkan lelah. Mengangkat beban juga mudah untuk diamati dan alat yang dibutuhkan tidak sulit yaitu hanya beban. Oleh karena itu dilakukan pengamatan sehingga dapat diketahui waktu istirahat yang dibutuhkan untuk memulihkan tenaga. Lalu dapat diketahui pula konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan.

 

1.2       Perumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dari latar belakang dapat dirumuskan pada perumusan masalah. Perumusan masalah pada modul Pengukuran Kinerja Fisiologi ini adalah bagaimana cara mengukur konsumsi energi dan oksigen. Bagaimana perubahan temperatur yang terjadi saat melakukan aktivitas. Bagaimana perbandingan antara waktu recovery teoritis dan waktu recovery percobaan. Terakhir adalah berapa kecepatan rata-rata denyut jantung dari pelayan restoran.

1.3       Pembatasan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam laporan akhir praktikum tentang Pengukuran Kinerja Fisiologi lebih jelas dengan adanya batasan-batasan masalah. Batasan-batasan masalahnya sebagai berikut:

  1. Tempat dan waktu

Praktikum hanya dilaksanakan di Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi pada hari Senin, tanggal 8 November 2010  pada pukul 09.30 WIB bertempat di Universitas Gunadarma

  1. Operator

Operator yang diamati dalam praktikum kali ini hanya 1 orang saja yaitu Agustinus.

  1. Data yang diambil

Data yang diambil ialah data denyut jantung dan suhu tubuh pada saat operator bekerja dan beristirahat.

  1. Pekerjaan yang dilakukan

Pekerjaan yang dilakukan operator hanyalah mengangkat beban sebesar 4 kg, 6 kg dan 8 kg.

  1. Anggota badan yang bekerja

Pada praktikum ini anggota badan yang mengakat beban hanya tangan dan kaki operator saja.

 

1.4       Tujuan

Penulisan laporan akhir ini memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan dari penulisan laporan akhir ini sebagai berikut:

  1. Mengetahui konsumsi energi dan oksigen yang dibutuhkan jika ketika operator bekerja dan istirahat.
  2. Mengetahui perbandingan antara waktu recovery teoritis dan waktu recovery percobaan yang dibutuhkan operator setelah ia bekerja.
  3. Mengetahui kecepatan rata-rata denyut jantung dari operator ketika bekerja.
  4. Mengetahui perubahan temperatur pada operator.

 

1.5        Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibuat untuk mempermudah pembaca dalam memahami serta mengambil kesimpulan dari pembahasan dalam Laporan Akhir Pengukuran Kinerja Fisiologi Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini, yang terdiri dari 5 (lima) bab. Berikut adalah sistematikanya:

BAB I     PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, perumusan masalah dari modul Pengukuran Kinerja Fisiologi, tujuan diadakannya praktikum Pengukuran Kinerja Fisiologi. Pembatasan masalah di dalam praktikum Pengukuran Kinerja Fisiologi juga terdapat dalam bab ini. Terakhir sistematika penulisan dari Laporan Akhir Pengukuran Kinerja Fisiologi Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini.

BAB II   LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan mengenai ringkasan teori dan materi-materi yang bersangkutan dari modul Pengukuran Kinerja Fisiologi.

BAB III PENGUMPULAN DATA

Bab ini memaparkan tentang flowchart pengumpulan data saat praktikum beserta penjelasannya. Terdapat juga peralatan yang digunakan selama praktikum beserta fungsinya. Serta data-data Pengukuran Kinerja Fisiologi yang diambil selama praktikum.

BAB IV  PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Bab ini berisi mengenai pembahasan dan analisis. Pembahasan berisi grafik analisis, perhitungan konsumsi dan oksigen, dan perhitungan periode istirahat. Analisis berisi perhitungan kecepatan rata-rata denyut jantung, perhitungan perubahan temperatur, analisis konsumsi energi dan oksigen dan terakhir perbandingan recovery percobaan dan teoritis..

BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi mengenai kesimpulan yang didapat dari pembahasan dan analisis. Kesimpulan juga berisi saran-saran yang diperlukan pada pelaksanaan praktikum Analisis perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Fisiologi

Adapun prinsip-prinsip mengenai fisiologi. Menurut Wikipedia Indonesia, fisiologi dari kata Yunani physis = ‘alam’ dan logos = ‘cerita‘, adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendefinisikan fisiologi sebagai cabang biologi yang berkaitan dengan fungsi dan kegiatan kehidupan atau zat hidup (organ, jaringan, atau sel).

Berdasarkan kedua definisi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa fisiologi adalah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari tentang fungsi normal dari suatu organisme mulai dari tingkat sel, jaringan, organ, sistem organ hingga tingkat organisme itu sendiri. Adapun fungsi yang dipelajari adalah fungsi kerja yang meliputi fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup (http://fkuii.org/tiki-index.php?page=Ilmu+Fisiologi).

Toole memberikan definisi yang lain tentang bekerja. Bekerja adalah kegiatan untuk menghasilkan sesuatu barang atau jasa yang bermanfaat dan digunakan  bagi orang lain, yang mungkin segera terkesan adalah aspek sosial dari bekerja dalam pengertian sempit yaitu karya persembahan seseorang kepada orang lain. Namun jika diteliti lebih dalam tersirat makna lain yaitu bahwa berkarya untuk orang lain seseorang akan mendapatkan penghargaan atas hasil karyanya itu. Penghargaan dari orang lain inilah yang antara lain dicari juga oleh seseorang dan ini bukan saja dalam bentuk materi tetapi juga dalam bentuk pengakuan, pujian, penghormatan, dan lain-lain.

 

2.2       Pengertian Kerja

Salah satu tolak ukur (selain waktu) yang diaplikasikan untuk mengevaluasikan apakah tata cara kerja sudah dirancang baik atau belum adalah dengan mengukur penggunaan “energi kerja” (energi otot manusia) yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Berat atau ringannya kerja yang harus dilakukan oleh seorang pekerja akan dapat ditentukan oleh gejala-gejala perubahan yang tampak dapat diukur lewat pengukuran anggota tubuh atau fisik manusia antara lain:

a. Laju detak jantung (heart rate).

b. Tekanan darah (blood pressure).

c. Temperatur badan (body temperature).

d. Laju pengeluaran keringat (sweating rate).

e.         Konsumsi oksigen yang dihirup (oxygen consumption).

f.  Kandungan kimiawi dalam darah (lactid acid content).

 

2.2.1    Pembagian Kerja

Secara umum jenis kerja dibedakan menjadi dua bagian yaitu kerja fisik adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber     tenaganya dan kerja mental adalah kerja   yang   melibatkan   proses   berpikir dari otak (Sritomo, 1993), dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kerja Fisik

Pengeluaran energi relatif banyak dan pada jenis ini dibedakan lagi menjadi dua cara:

  1. Kerja Statis, yaitu:
    1. Tidak menghasilkan gerak.
    2. Kontraksi otot bersifat isometris (tegang otot bertambah sementara tegangan otot tetap).
    3. Kelelahan lebih cepat terjadi.
    4. Kerja Dinamis, yaitu:
      1. Menghasilkan gerak.
      2. Kontraksi otot bersifat isotonis (panjang otot berubah sementara tegangan otot tetap).
      3. Kontraksi otot bersifat ritmis (kontraksi dan relaksasi secara bergantian).
      4. Kelelahan relatif agak lama terjadi.
  2. Kerja Mental

Pengeluaran energi relatif lebih sedikit dan cukup sulit untuk mengukur kelelahannya. Hasil kerja (performasi kerja) manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, adalah sebagai berikut:

  1. Faktor diri (individu), meliputi sikap, fisik, minat, motivasi, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, dan keterampilan.
  2. Faktor situasional, meliputi lingkungan fisik, mesin, peralatan, metode kerja, dan lain-lain.

Kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja, adalah sebagai berikut:

  1. Kriteria Faal

Meliputi kecepatan denyut jantung, konsumsi oksigen, tekanan darah, tingkat penguapan, temperatur tubuh, komposisi kimia dalam air seni, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat tubuh selama bekerja.

  1. Kriteria Kejiwaan

Meliputi kejenuhan atau kejemuan, emosi, motivasi, sikap, dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui perubahan kejiwaan yang timbul selama bekerja.

  1. Kriteria Hasil Kerja

Meliputi pengukuran hasil kerja yang diperoleh dari pekerja selama bekerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi kerja dengan melalui hasil kerja yang diperoleh dari pekerja.

Rumusan hubungan konsumsi energi dengan kecepatan denyut jantung adalah sebagai berikut:

Y         = 1,80411 – 0,0229038 X + 4,71733.10.X

KE       = Et – Ei

 

 

 

 

Keterangan:

Y      = Energi (kkal/menit)

X      = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)

KE    = Konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu (Kkal)

Et      = Pengeluaran energi pada saat kerja (Kkal)

Ei      = Pengeluaran energi pada saat istirahat (Kkal)

 

2.2.2    Kelelahan Kerja

Definisi umum dari kelelahan kerja adalah suatu kondisi dimana terjadi pada syaraf dan otot manusia, sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Definisi kelelahan  kerja  drai teori lainnya merupakan  proses   menurunnya   efisiensi,   performansi  kerja, dan  berkurangnya   kekuatan atau ketahanan   fisik   tubuh   untuk   terus   melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.

Kelelahan dipandang dari sudut industri adalah pengaruh dari kerja pada pikiran dan tubuh manusia yang cenderung untuk mengurangi kecepatan kerja mereka atau menurunkan kualitas produksi dari performasi optimis seorang operator. Adapun cakupan dari kelelahan yaitu:

  1. Penurunan dalam performasi kerja

Pengurangan dalam kecepatan dan kualitas output yang terjadi bila melewati suatu periode tertentu, disebut fatique industri.

  1. Pengurangan dalam kapasitas kerja.

Perusakkan otot atau ketidakseimbangan susunan syaraf untuk memberikan stimulus, disebut fatique fisiologi.

  1. Laporan-laporan subyektif dari pekerja.

Berhubungan dengan perasaan gelisah dan bosan, disebut fatique fungsional.

  1. Perubahan-perubahan dalam aktivitas dan kapasitas kerja.

Perubahan fungsi fisologi atau perubahan dalam kemampuan dalam melakukan aktivitas fisiologi, disebut fatique fungsional.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kelelahan, adalah sebagai berikut:

  1. Penentuan dan lamanya waktu kerja.
  2. Penentuan dan lamanya waktu istirahat.
  3. Sikap mental pekerja.
  4. Besarnya beban tetap.
  5. Kemonotonan pekerjaan dalam lingkungan kerja yang tetap.
  6. Kondisi tubuh operator pada waktu melaksanakan pekerjaan.
  7. Lingkungan fisik kerja.
  8. Kecapaian kerja.
  9. Jenis dan kebiasaan olahraga atau latihan.

10.  Jenis kelamin.

11.  Umur.

12.  Sikap kerja.

Pengukuran kelelahan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Berikut ini adalah cara untuk mengukur tingkat kelelahan.

  1. Mengukur kecepatan denyut jantung.
  2. Mengukur kecepatan pernafasan.
  3. Mengukur tekanan darah.
  4. Jumlah oksigen yang terpakai dalam tubuh.
  5. Perubahan temperatur tubuh.
  6. Perubahan komposisi kimia dalam darah dan urin.
  7. g. Menggunakan alat uji kelelahan, yaitu Riken Fatique Indicator.

Kelelahan otot adalah kelelahan yang terjadi karena kerja otot, dengan adanya aktivitas kontraksi dan relaksasi (Sritomo, 1993).  Kelelahan otot dalam hal ini bisa dilihat dalam bentuk munculnya gejala kesakitan    yang    amat   sangat   ketika   otot  harus   menerima     beban    yang berlebihan. Tipe aktivitas otot oleh Ryan dalam Work & Effort adalah:

  1. Pengeluaran sejumlah energi secara cepat.
  2. Pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus.
  3. Pekerjaan setempat atau lokal yang terus-menerus berulang dengan pengeluaran energi setempat yang besar.
  4. Sikap yang dibatasi (kerja statis).

Untuk mengurangi kelelahan otot (Brouha dalam Physiology in Industry) mempunyai saran-saran sebagai berikut:

  1. Mengurangi beban kerja dengan melakukan perancangan kerja.
  2. Mengatur perioda istirahat yang cukup didasarkan atas pertimbangan fisiologi.
  3. Mengatur regu-regu kerja dengan baik dan menyeimbangkan tekanan fisiologi diantara anggota pekerja.
  4. Menyediakan air dan garam yang cukup bagi pekerja yang bekerja dalam lingkungan kerja yang panas.
  5. Menyeleksi pekerja yang didasarkan atas kemampuan fisik mereka dan tingkat pelatihan atau training untuk aktivitas-aktivitas tertentu atau khusus yang membutuhkan energi yang banyak atau berat.

Penentuan waktu istirahat atau recovery adalah:

  1. Berdasarkan konsumsi energi dari konversi kecepatan denyut jantung. Berikut dibawah ini adalah rumus untuk penentuan waktu istirahat atau recovery.

R =

 

 

 

 

Keterangan:

R    = Waktu istirahat (menit)

T    = Waktu total kerja

K   = Energi yang dikeluarkan dalam bekerja (kkal/menit)

S    = Konstanta

Untuk penentuan S diberikan pendekatan seperti ditunjukkan oleh tabel 2.1 dan 2.2 di bawah ini:

 

Tabel 2.1 Detak Jantung

Tingkat Pekerjaan Energy Expenditure Detak Jantung Konsumsi Energi
Kkal / menit

Kkal / 8jam

Detak / menit Liter / menit
Undully Heavy >12.5 >6000 >175 >2.5
Very Heavy 10.0 – 12.5 4800 – 6000 150 – 175 2.0 – 2.5
Heavy 7.5 – 10.0 3600 – 4800 125 – 150 1.5 –2.0
Moderate 5.0 – 7.5 2400 – 3600 100 – 125 1.0 – 1.5
Light 2.5 – 5.0 1200 – 2400 60 – 100 0.5 – 1.0
Very Light < 2.5 < 1200 < 60 < 0.5

 

(Sumber : dian.staff.gunadarma.ac.id)

Tabel 2.2 Penetuan Nilai Kostanta (S)

Tingkat Pekerjaan S
Undully Heavy Over 12,5
Very Heavy 10 – 12,5
Heavy 7,5 – 10
Moderate 5 – 7,5
Light 2,5 – 5
Very Light Under 2,5

 

(Sumber : dian.staff.gunadarma.ac.id)

 

  1. Berdasarkan kapasitas oksigen terukur

Konsumsi energi dapat diukur secara tidak langsung dengan mengukur konsumsi oksigen. Jika satu liter oksigen dikonsumsi oleh tubuh, maka tubuh akan mendapatkan 4,8 kcal energi. Berikut dibawah ini adalah penjelasan rumusnya.

R =

 

 

 

 

Keterangan:

R    = Waktu istirahat (jam)

W  = Waktu total kerja (jam)

B    = Kapasitas oksigen pada saat kerja (liter/menit)

S    = Kapasitas oksigen pada saat diam (liter/menit)

Energi yang dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari seperti ditunjukan oleh tabel 2.3 dibawah ini:

 

Tabel 2.3 Tabel Energi

Jenis

pekerjaan/pekerja

Pria (Kkal/hari) Wanita (Kkal/hari)
Sekretaris 2700 2250
Pengemudi Bus 3000 2500
Operator Mesin 3300 2700
Buruh Kasar 3900 3250

Tabel 2.3 Tabel Energi (Lanjutan)

Penari Balet 3900 3250
Atlet 4800 4250

(Sumber : dian.staff.gunadarma.ac.id)

 

Tabel 2.4 Tabel Energi Berdasarkan Pekerjaannnya

Jenis

pekerjaan/pekerja

Energi (kkal/menit)
Duduk 0,3
Berdiri 0,6
Berjalan 2,1
Berjalan dengan Beban 10 kg 3,6
Berjalan dengan Kecepatan 16 km/jam 5,2
Mendaki dengan sudut kemiringan 30 13,7

 

(Sumber : dian.staff.gunadarma.ac.id)

BAB III

METODE PENGAMBILAN DATA

3.1 Flowchart Pengambilan Data

Proses pengambilan data untuk modul fisiologi tahapannya dijelaskan dalam bentuk flowchat. Berikut dapat dilihat pada gambar 3.1 untuk lebih jelas tentang tampilan flowchart pengambilan data.

 

Gambar 3.1 Flowchart Pengambilan Data

3.2 Penjelasan Flowchart Pengambilan Data

Langkah pertama dalam tahapan pengambilan data adalah penentuan jenis pekerjaan yang akan dilakukan untuk pengukuran fisiologi dan pekerjaan yang dilakukan yakni mengangkat barbel. Setelah jenis pekerjaan sudah ditentukan, dilanjutkan dengan memilih operator yang telah sesuai  kriteria, yakni mempunyai fisik yang kuat untuk dapat melakukan aktivitas mengangkat barbel. Setelah operator ditentukan, lalu menyiapkan alat yakni barbel 4kg, 6kg, dan 8kg, pulsemeter, termometer serta stopwatch.

Langkah berikutnya yaitu mengukur T0 dan D0 pada operator. Jika D0 diantara 70 dan 85 maka akan dilanjutkan ke langkah berikutnya, jika tidak maka akan diulangi mengukur T0 dan D0. Lalu setelah D0 diantara 70 dan 85, operator akan melakukan pengangkatan beban. Jika operator sanggup maka akan dilanjutkan tahap selanjutnya, jika sanggup maka akan diulangi mengangkat beban. Setalah operator tidak sanggup maka akan diukur T1 dan D’1. Jika D’1 sudah kurang dari atau sama dengan D0 maka akan dilanjutkan ke pengukuran beban lainnya. Jika data yang dibutuhkan sudah terisi semua maka selesailah pengukuran yang dilakukan, jika belum maka akan diulangi dengan mengukur T0 dan D0. Setelah selesai maka langkah selanjutnya adalah merapikan alat-alat yang digunakan.

 

3.3 Peralatan yang Digunakan

Alat yang digunakan beserta penjelasan fungsinya dalam proses pengambilan data pengukuran fisiologi, dengan melakukan aktivitas mengangkat barbel adalah sebagai berikut.

  1. Barbel 4kg, 6kg, dan 8kg, digunakan sebagai beban yang akan diberikan kepada seorang operator.
  2. Termometer, digunakan untuk mengetahui suhu tubuh awal operator sebelum melakukan aktivitas mengangkat barbel dan suhu tubuh operator setelah melakukan aktivitas mengangkat barbel.
  3. Pulsemeter, digunakan untuk mengetahui denyut jantung awal operator sebelum melakukan aktivitas mengangkat barbel dan denyut jantung operator setelah melakukan aktivitas mengangkat barbel, yakni saat istirahat hinggga kondisi operator pulih kembali.
  4. Stopwatch, digunakan untuk menghitung lamanya seorang operator dalam melakukan aktivitas mengangkat barbel dan lamanya operator untuk dapat memulihkan kondisi fisiknya setelah melakukan aktivitas mengangkat barbel.

3.4 Data Hasil Pengamatan

Adapun sebagai berikut tampilan data hasil pengumpulan data yang telah dilakukan dalam proses pengumpulan data pengukuran fisiologi kerja statis, untuk angkat barbel .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.1 Data Pengamatan

 

LEMBAR PENGAMATAN PENGUKURAN FISIOLOGI

KERJA STATIS (ANGKAT BARBEL)

Nama Operator : Agustinus                            Suhu Tubuh Awal (To) : 35.70C

Umur Operator : 20 Tahun                             Denyut Jantung (D0)     : 85

 

 

Berat Beban

ANGGOTA BADAN
TANGAN KAKI
 

4 Kg

 

 

 

D0 : 85

T0 : 35.7

 

D1 = 98 D0 : 84

T0 : 35.2

 

D1 = 110
   
   
T1 : 35.7

 

D1 = 86 T1 : 35.7

 

D1 = 77
D2 = 77  
 

 

 

6 Kg

 

 

 

 

 

 

 

D0 : 77

T0 : 35.8

 

D1 = 116 D0 : 75

T0 : 35.7

 

D1 = 126
   
   
 

T1 : 35.3

 

 

 

 

D1 = 86 T1 : 36.8

 

 

 

 

 

D1 = 88
D2 = 86 D2 = 89
D3 = 91 D3 = 97
D4 = 78 D4 = 87
D5 = 71 D5 = 86
  D6 = 75
 

 

8 Kg

 

 

 

 

 

 

D0 : 77

T0 : 35.8

 

D1 = 116  

D0 : 85

T0 : 36.8

 

D1 = 132
   
   
T1 : 35.2

 

 

 

D1 = 87 T1 : 36.4 D1 = 103
D2 = 92   D2 = 95
D3 = 84   D3 = 95
    D4 = 84
Nama Pengamat : Dery, Nadya, Taruna

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISA

4.1       Pembahasan

Bagian ini mencakup beberapa penjelasan diantaranya grafik analisis, konsumsi energi dan oksigen, dan periode istirahat (waktu recovery teoritis). Berikut adalah pembahasan materi yang disebutkan diatas.

 

4.1.1 Grafik Analisis

Berikut ini adalah grafik denyut jantung ketika bekerja dan istirahat dari data pengamatan yang didapat. Mulai dari per beban yang diangkat dan anggota badan yang mengangkat beban.

  1. Grafik antara beban 4 kg dengan tangan dan kaki.

Grafik pada gambar 4.1 menggambarkan denyut jantung dengan waktu pada beban 4 kg dimana data yang dilihat dari tangan dan kaki. Terlihat bahwa denyut jantung pada kaki saat mengangkat beban lebih cepat dibanding dengan tangan. Seharusnya mengangkat menggunakan kaki lebih kuat dari pada menggunakan tangan, namun pada beban 4 kg ini terbalik. Waktu kerja pada saat menggunakan kaki maupun tangan sama saja yaitu 1 menit, walaupun seharusnya dengan menggunakan kaki lebih lama. Waktu recovery pada saat menggunakan tangan lebih lama. Hal ini mungkin dikarenakan operator sudah kelelahan pada saat mengangkat menggunakan kaki. Hal lainnya juga karena operator belum terbiasa melakukan pekerjaan mengangkat beban ini.

 

Gambar 4.1 Grafik beban 4 kg

  1. Grafik antara beban 6 kg dengan tangan dan kaki

Grafik pada gambar 4.2 menggambarkan denyut jantung dengan waktu pada beban 6 kg dimana data yang dilihat dari tangan dan kaki. Terlihat bahawa denyut jantung pada kaki saat mengangkat beban lebih cepat dibanding dengan tangan. Seharusnya mengangkat menggunakan kaki lebih kuat dari pada menggunakan tangan, namun pada beban 6 kg ini juga terbalik. Waktu kerja pada saat menggunakan kaki maupun tangan sama saja yaitu 1 menit, walaupun seharusnya dengan menggunakan kaki lebih lama. Waktu recovery pada saat menggunakan kaki lebih lama sebanding dengan kecepatan jantung yang lebih cepat ketika menggunakan kaki. Hal ini mungkin dikarenakan operator sudah kelelahan pada saat mengangkat menggunakan kaki. Hal lainnya juga karena operator belum terbiasa melakukan pekerjaan mengangkat beban ini.

 

Gambar 4.2 Grafik beban 6 kg

  1. Grafik antara beban 8 kg dengan tangan dan kaki

Grafik pada gambar 4.3 menggambarkan denyut jantung dengan waktu pada beban 8 kg dimana data yang dilihat dari tangan dan kaki. Terlihat bahwa denyut jantung pada kaki saat mengangkat beban lebih cepat dibanding dengan tangan. Seharusnya mengangkat menggunakan kaki lebih kuat dari pada menggunakan tangan, namun pada beban 8 kg ini juga terbalik. Waktu kerja pada saat menggunakan kaki maupun tangan sama saja yaitu 1 menit, walaupun seharusnya dengan menggunakan kaki lebih lama. Waktu recovery pada saat menggunakan kaki lebih lama sebanding dengan kecepatan jantung yang lebih cepat ketika menggunakan kaki. Hal ini mungkin dikarenakan operator sudah kelelahan pada saat mengangkat menggunakan kaki. Hal lainnya juga karena operator belum terbiasa melakukan pekerjaan mengangkat beban ini.

 

 

 

Gambar 4.3 Grafik beban 8 kg

  1. Grafik antara tangan dengan beban 4 kg, 6 kg dan 8 kg.

Grafik pada gambar 4.4 menggambarkan denyut jantung dengan waktu pada bagian tangan dimana data yang dilihat adalah pada beban 4kg, 6kg dan 8 kg. Terlihat pada saat beban 8 kg dan 6 kg denyut jantung lebih cepat dibanding pada saat beban 4 kg. Hal ini dikarenakan beban 4 kg lebih ringan dibanding 6 kg dan 8 kg. Denyut jantung pada saat 6 kg dan 8 kg dapat sama karena operator sudah mulai terbiasa mengangkat beban. Waktu recovery beban 6 kg lebih lama dibanding beban 4 kg dan 8 kg. Waktu kerja untuk tiap beban sama yaitu 1 menit.

 

Gambar 4.4 Grafik Tangan

  1. Grafik antara kaki dengan beban 4 kg, 6 kg dan 8 kg

Grafik pada gambar 4.5 menggambarkan denyut jantung dengan waktu pada bagian kaki dimana data yang dilihat adalah pada beban 4 kg, 6 kg dan 8 kg. Terlihat pada saat beban 8 kg denyut jantung lebih cepat dibanding pada saat beban 4 kg dan 6 kg. Hal ini dikarenakan beban 4 kg lebih ringan dibanding 6 kg dan beban 6 kg lebih ringan dari pada beban 8 kg. Waktu recovery beban 6 kg lebih lama dibanding beban 4 kg dan 8 kg. Waktu kerja untuk tiap beban sama yaitu 1 menit.

 

Gambar 4.5 Grafik Kaki

4.1.2 Konsumsi Energi dan Oksigen

Perhitungan konsumsi energi dan oksigen saat kerja dan istirahat, untuk anggota badan tangan dan kaki. Berikut adalah masing-masing perhitungannya:

 

  1. Rata-Rata Denyut Jantung Saat Istirahat

= 116.3

 

 

 

  1. Rata-Rata Denyut Jantung Saat Istirahat

 

 

 

 

 

Konsumsi Energi (KE) = YKerja – YIstirahat

= 5.52 – 3.35

= 2.17 Kcal/menit

 

Konsumsi Oksigen (KO) = KE / 4.8

= 2.17 / 4.8

= 0.45 Kcal/menit

 

4.1.3 Periode Istirahat (Waktu Recovery Teoritis)

Perhitungan waktu recovery teoritis untuk mengetahui besarnya nilai denyut jantung operator setelah mengangkat barbel dengan beban 4kg, 6kg, dan 8kg. Berikut ini adalah masing-masing perhitungannya:

 

  1. Tangan

4 Kg

menit

6 Kg

menit

 

8 Kg

menit

 

b.         Kaki

4 Kg

menit

6 Kg

menit

8 Kg

menit

 

Contoh perhitungan nilai K:

 

 

 

 

Contoh perhitungan nilai S:

 

Tabel 4.1 Ringkasan Waktu Recovery Teoritis

Beban Waktu Recovery Teoritis
Tangan Kaki
4 kg 0.303 menit 0.32 menit
6 kg 0.28 menit 0.24 menit
8 kg 0.28 menit 0.24 menit

 

Waktu recovery teoritis yang didapat dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus diatas, diketahui bahwa besarnya nilai denyut jantung seorang operator setelah melakukan aktivitas mengangkat barbel yang diamati setiap 1 menit untuk setiap beban yang berbeda yakni 4kg, 6kg, dan 8kg terdapat periode waktu istirahat yang sama dan berbeda, untuk anggota badan tangan dan kaki. Periode waktu istirahat yang sama dan berbeda dipengaruhi oleh nilai S dan nilai K yang digunakan. Nilai S yang digunakan adalah untuk tingkat pekerjaan Light dan Moderate. Kemudian nilai K yang digunakan rata-rata dari nilai denyut jantung operator yang hanya mampu kerja dalam waktu 1 menit saja, yang kemudian dimasukkan dalam perhitungan konsumsi energi dan oksigen, hingga didapat nilai K.

 

4.2. Analisis

Bagian ini akan menjelaskan mengenai analisis kecepatan rata-rata denyut jantung perubahan temperatur, konsumsi energi dan oksigen serta perbandingan recovery percobaan dan teoritis. kekurangan. Berikut ini penjelasan dari analisis yang telah disebutkan diatas.

 

4.2.1 Kecepatan Rata-Rata Denyut Jantung

Kecepatan rata-rata denyut jantung seorang operator dalam melakukan aktivitas mengangkat barbel dengan beban 4kg, 6kg, dan 8kg. Berikut ini adalah contoh perhitungan kecepatan rata-rata denyut jantung untuk anggota badan tangan dan kaki:

  1. Tangan

4 Kg

denyut/menit

b.         Kaki

4 Kg

denyut/menit

Tabel 4.2 Ringkasan Kecepatan Rata-Rata Denyut Jantung

Beban Kecepatan Rata-Rata Denyut Jantung
Tangan Kaki
4 kg 91.5 denyut/menit 97 denyut/menit
6 kg 96.5 denyut/menit 100.5 denyut/menit
8 kg 100.5 denyut/menit 108.5 denyut/menit

 

Kecepatan rata-rata dengan menggunakan tangan dapat disimpulkan semakin besar beban yang diangkat operator maka semakin besar pula kecepatan denyut jantung dari operator tersebut. Begitupun dengan kecepatan rata-rata dengan menggunakan kaki dapat disimpulkan semakin besar beban yang diangkat operator maka semakin besar pula kecepatan denyut jantung dari operator tersebut. Jika dilihat perbeban maka dapat disimpulkan dengan menggunakan kaki kecepatan denyut jantungnya lebih cepat dibanding dengan menggunakan tangan. Hal ini mungkin dikarenakan operator sudah mulai kelelahan ketika menggunakan kaki.

 

4.2.2 Perubahan Temperatur

Perubahan temperatur operator yang saat belum melakukan aktivitas mengangkat barbel maupun saat setelah melakukan aktivitas mengangkat barbel, dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.3 Ringkasan Perubahan Tempertur

Beban (Kg) Tangan Kaki
To T1 Ket. To T1 Ket.
4 35.7 35.8 0.1 Naik 35.2 35.7 0.5 Naik
6 35.8 35.3 0.5 Turun 35.7 36.8 1.1 Naik
8 35.3 35.2 0.1 Naik 36.8 36.4 0.4 Turun

 

Perubahan temperatur pada pengambilan data untuk aktivitas pengangkatan barbel adalah suhu tubuh sebelum dan sesudah operator melakukan aktivitas. Dalam pengukuran ini terdapat perbedaan suhu antara suhu tubuh operator setelah melakukan kerja dengan suhu tubuh operator sebelum melakukan kerja. Hal tersebut dapat terjadi karena setelah melakukan aktivitas mengangkat barbel, suhu tubuh akan mengalami kenaikan maupun penurunan temperatur pada tubuhnya.  Kenaikan temperatur terjadi saat seorang operator mengangkat barbel dan penurunan temperatur terjadi setelah seorang operator selesai melakukan aktivitas mengangkat barbel.

 

4.2.3 Analisa Konsumsi Energi dan Oksigen

Konsumsi akan energi dan oksigen yang dibutuhkan oleh seorang operator berbeda saat bekerja dan saat istirahat, hal itu dapat diketahui dengan nilai dari rata-rata denyut jantung saat kerja dan rata-rata denyut jantung saat istirahat. Pengambilan data untuk mengetahui konsumsi energi yang dibutuhkan oleh seorang operator saat melakukan aktivitas mengangkat barbel dengan berat 4kg, 6kg, dan 8kg didapat konsumsi energi yang digunakan sebesar 2.17 Kcal/menit. Kemudian konsumsi oksigen yang digunakan sebesar 0.045 Kcal/menit. Sehingga dapat dianalisis konsumsi energi dan oksigen akan semakin banyak dibutuhkan oleh seorang operator yang sedang bekerja, terutama bila beban kerjanya yang cukup berat serta konsumsi energi dan oksigen akan semakin sedikit dibutuhkan oleh seorang operator yang tidak sedang bekerja maupun bekerja dengan beban kerja yang relatif ringan.

 

4.2.4 Perbandingan Recovery Percobaan dan Teoritis

Nilai recovery percobaan yang didapat pada proses pengambilan data untuk pengukuran fisiologi pada seorang operator yang melakukan aktivitas mengangkat barbel, akan dibandingkan dengan nilai recovery teoritis yang didapat dengan penggunaan perhitungan rumus. Berikut tampilan nilai perbandingan Recovery percobaan dan teoritis.

Tabel 4.4 Ringkasan Perbandingan Recovery Percobaan dan Teoritis

Beban (kg) Recovery Percobaan Recovery Teoritis Kesimpulan
Tangan Kaki Tangan Kaki Tangan Kaki
4 2 1 0.303 0.32 Rp > Rt Rp > Rt
6 5 6 0.28 0.24
8 3 4 0.28 0.24

Perbedaan nilai antara waktu recovery percobaan dengan waktu recovery teoritis, menunjukkan bahwa operator terbiasa atau tidak dalam melakukan aktivitas tersebut. Nilai waktu recovery percobaan lebih besar dari waktu recovery teoritis, hal itu menandakan operator terbiasa dan terlatih dalam melakukan aktivitas mengangkat barbel dari beban 4kg, 6kg, dan 8kg. Sedangkan nilai waktu recovery teoritis lebih kecil dari waktu recovery percobaan, hal itu menandakan operator tidak terbiasa dan tidak terlatih dalam melakukan aktivitas mengangkat barbel dari beban 4kg, 6kg, dan 8kg.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan diambil dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dan menjawab dari tujuan. Berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil:

  1. Konsumsi energi ketika operator bekerja sebesar 5.52 kcal/menit dan ketika istirahat sebesar 3.35 kcal/menit. Sedangkan konsumsi energi keseluruhan adalah 2.17 kcal/menit dan konsumsi oksigennya adalah 0.045.
  2. Nilai waktu recovery percobaan lebih besar dari waktu recovery teoritis.
  3. Kecepatan rata-rata denyut jantung untuk tangan dengan beban 4 kg sebesar 91.5 denyut/menit, beban 6 kg sebesar 96.5 denyut/menit dan beban 8 kg sebesar 100.5 denyut/menit. Sedangkan untuk kaki dengan beban 4 kg sebesar 97 denyut/menit, beban 6 kg sebesar 100.5 denyut/menit dan beban 8 kg sebesar 108.5 denyut/menit.
  4. Pada tangan dengan beban 4 kg suhu naik sebesar 0.1 derajat, beban 6 kg suhu turun sebesar 0.5 derajat dan beban 8 kg suhu naik sebesar 0.1 derajat. Sedangkan pada kaki dengan beban 4 kg suhu naik sebesar 0.5 derajat, beban 6 kg suhu naik sebesar 1.1 derajat dan beban 8 kg suhu turun sebesar 0.4 derajat.

 

5.2 Saran

Berikut beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar pada proses pengukuran selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Saran yang dapat diberikan adalah

  1. Waktu istirahat untuk operator lebih diperhatikan agar dapat menangkat beban lebih maksimal. Untuk seorang operator hendaklah melakukan pemanasan sebelum melakukan percobaan gunanya untuk menghindarkan dari otot-otot yang tegang akibat melakukan suatu pekerjaan yang belum terbiasa.
  2. Sebaiknya perbedaan beban tidak begitu besar dan ditambah misalnya 2 kg, 3 kg, 4 kg, 5 kg dan 6 kg sehingga datanya dapat lebih bervariasi.
  3. Jenis pekerjaan yang dilakukan dapat ditambah.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Wignjosoebroto, Sritomo. 1993. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja, Surabaya: Guna Widya.

http://www.dian.staff.gunadarma.ac.id.

http://www.Wikipedia Indonesia.

www.fkuii.org/tiki-index.php?page=Ilmu+Fisiologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISPLAY

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 2

PENGINDERAAN DAN INFORMASI

(DISPLAY)

Disusun Oleh:

Nama/NPM                 : 1. Agustinus                / 30408063

2. Dery Indra              / 30408266

3. Nadya Jeans           / 30408928

4. Taruna Jaya            / 30408818

Kelompok                    : I (Satu)

Hari/Tanggal                 : Sabtu / 16 Oktober 2010

Shift                             : I (Satu)

Asisten Pembimbing      : Bramastha Bintang

 

 

LABORATORIUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

JAKARTA

2010

 

ABSTRAKSI

Agustinus (30408063), Dery Indra (30408266), Nadya Jeans (30408928), Taruna Jaya (30408818)

PENGINDERAAN DAN INFORMASI (DISPLAY)

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2010.

Kata Kunci: Display, kalender meja, perancangan display.

 

 

Manusia memerlukan interaksi dengan manusia lainnya maupun dengan lingkungannya. Namun lingkungantidak bisa secara langsung berinteraksi dengan manusia. Salah satu cara lingkungan berkomunikasi dengan manusia adalah dengan menggunakan display. Penggunaan display dalam hal ini mencoba menampilkan rancangan display yang mengandung prinsip ergonomi. Media display yang digunakan adalah kalender meja, yang mana dalam tampilan kalender meja yang dirancang menampilkan gambar animasi yang dikombinasikan dengan kalimat pesan yang menggambarkan display kalender meja. Kemudian tipe display yang digunakan adalah tipe display berdasarkan lingkungan yaitu display statis dan tipe display berdasarkan lingkungan yaitu visual display, berdasarkan tujuannya yaitu display khusus dan berdasarkan informasinya adalah display kualitatif. Prinsip display yang digunakan adalah proximity, continuty, dan symetry. Selanjutnya rincian ukuran rancangan display untuk kalender meja antara lain tinggi huruf besar 10 mm, tebal huruf besar 1.67 mm, jarak antara dua huruf 2.5 mm, jarak antara dua kata 6.67 mm, dan lebar huruf besar 6.67 mm. Kemudian warna yang digunakan untuk rancangan display kalender meja adalah biru, putih, hijau dan hitam.

 

 

Daftar Pustaka (1964-1996)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Manusia hidup didunia ini tidak terlepas dari interaksi dengan manusia lain maupun lingkungannya. Cara berinteraksinya dengan melakukan komunikasi. Mungkin jika berkomunikasi sesama manusia sudah hal biasa dan mudah untuk dilakukan dengan berbicara dan lain sebagainya. Hal ini berbeda jadinya jika manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan bisa saja tempat tinggal, kamar, kampus, jalan raya dan lainnya. Lingkungan tidak bisa dengan sendirinya mengatakan apa yang dia rasakan kepada manusia secara langsung. Oleh karena itu dibutuhkanlah alat. Salah satu alatnya yang dapat digunakan untuk berinteraksi adalah display. Display yang dibuat dapat menjadi salah satu media penyampaian informasi dari lingkungan kepada manusia.

Kalender meja adalah salah satu display. Kalender memberitahukan kepada manusia tentang periode waktu. Kalender meja ini dirancang karena salah satu display yang paling sering dilihat. Manusia sering melihat untuk mengetahui tanggal sehingga display ini sangat berguna. Diharapkan dengan perancangan display kalender meja ini gambar yang terdapat dikalender meja ini dapat disalurkan pesan yang baik. Karena biasanya gambar yang ada pada kalender lebih mementingkan kesan daripada kegunaan dari display itu sendiri. Maka dari itu perlunya perancangan display kalender meja yang sesuai dengan prinsip-prinsip dari ilmu ergonomi.

 

1.2       Perumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dari latar belakang dapat dirumuskan pada perumusan masalah. Perumusan masalah pada modul display ini adalah bagaimana merancang sebuah kalender meja menjadi display yang baik. Display yang baik adalah display yang mengikuti prinsip-prinsip yang ada dalam ilmu ergonomi.

1.3       Pembatasan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam laporan akhir praktikum tentang display lebih jelas dengan adanya batasan-batasan masalah. Adapun batasan-batasan masalahnya sebagai berikut:

  1. Tempat dan waktu

Praktikum hanya dilaksanakan di Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi pada hari Senin, tanggal 11 Oktober 2010  pada pukul 09.30 WIB bertempat di Universitas Gunadarma

  1. Display yang dirancang

Display yang dirancang adalah hanya sebuah kalender meja bulan Juli sampai Agustus dengan temanya adalah ergonomi.

3.   Tipe Perancangan yang Digunakan

Tipe Perancangan yang digunakan untuk rancangan display kalender meja adalah  tipe rancangan display berdasarkan tujuan yakni display khusus, tipe rancangan display berdasarkan lingkungan yakni display statis, tipe rancangan display berdasarkan informasi yakni display kualitatif, tipe rancangan berdasarkan panca indra yakni visual display.

4.   Prinsip Display yang Digunakan

Prinsip display yang digunakan untuk rancangan display kalender meja adalah proximity, symetry, dan continuity.

 

1.4       Tujuan

Penulisan dari laporan akhir ini memiliki tujuan yang dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Adapun tujuan laporan akhir ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui tipe display yang digunakan dalam perancangan display kalender meja.
  2. Mengetahui prinsip display yang digunakan dalam perancangan display kalender meja.
  3. Mengetahui ukuran huruf dan jarak huruf yang digunakan dalam perancangan display kalender meja.
  4. Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari display yang dirancang.

1.5        Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibuat untuk mempermudah pembaca dalam memahami serta mengambil kesimpulan dari pembahasan dalam Laporan Akhir Display Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini, yang terdiri dari 5 (lima) bab. Adapun sistematika penulisan laporan akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB I     PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, perumusan masalah dari modul display, tujuan diadakannya praktikum display. Pembatasan masalah di dalam praktikum display juga terdapat dalam bab ini. Terakhir sistematika penulisan dari Laporan Akhir display Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini.

BAB II   LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan mengenai ringkasan teori dan materi-materi yang bersangkutan dari modul display.

BAB III PENGUMPULAN DATA

Bab ini memaparkan tentang flowchart pengumpulan data saat praktikum beserta penjelasannya. Terdapat juga peralatan yang digunakan selama praktikum beserta fungsinya

BAB IV  PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Bab ini berisi mengenai pembahasan dan analisis. Pembahasan berisi deskripsi dari produk yang dirancang, data display yang digunakan dan proses perancangan kalender meja. Analisis berisi analisis prinsip dan tipe yang digunakan, ukuran dan warna serta kelebihan serta kekurangan dari perancangan kalender meja.

BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi mengenai kesimpulan yang didapat dari perancangan kalender meja. Kesimpulan juga berisi saran-saran yang diperlukan pada pelaksanaan praktikum Analisis perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1       Definisi Display

Display merupakan bagian dari lingkungan yang perlu memberi informasi kepada pekerja agar tugasnya menjadi lancar (Sutalaksana,1979). Display berfungsi sebagai system komunikasi yang menghubungkan fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia, contoh dari display diantaranya adalah jarum speedometer, keadaan jalan raya memberikan informasi langsung ke mata, peta yang menggambarkan keadaan suatu kota. Jalan raya merupakan contoh dari display langsung, karena kondisi lingkungan jalan jalan bisa langsung diterima oleh pengemudi. Jarum penunjuk speedometer merupakan contoh display tak langsung karena kecepatan kendaraan diketahui secara tak langsung melalui jarum speedometer sebagai informasi.

Arti informasi disini cukup luas, menyangkut semua ransangan yang diterima oleh indera manusia bail langsung maupun tak langsung. Infomasi yang dibutuhkan sebelum membuat display, diantaranya:

  1. Tipe teknologi yang digunakan untuk menampilkan informasi.
  2. Rentang total dari variabel mengenai informasi mana yang akan ditampilkan.
  3. Ketepatan dan Sensitivitas maksimal yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi.
    1. Kecepatan total dari variabel yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi.
    2. Minimasi kesalahan dalam pembacaan display.
    3. Jarak normal dan maksimnal antara display dan pengguna display.
    4. Lingkungan dimana display tersebut digunakan.

Ada tiga kriteria dalam pembuatan display yang harus dioperhatikan, yaitu sebagai berikut untuk penjelasanya:

(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/display/)

 

 

  1. Pendeteksian

Kemampuan dasar dari display untuk dapat diketahui keberadaannya atau fungsinya, untuk visual display harus dapat dibaca, contohnya adalah petunjuk umum penggunaan roda setir pada mobil dan untuk auditory display harus bisa didengar, contohnya adalah bel pada rumah.

  1. Pengenalan

Setelah display dideteksi , pesan dari display tersebut harus bisa dibaca atau didengar dan dapat dipahami bagi setiap pembacanya.

  1. Pemahaman

Dalam pembuatan display tidaklah cukup apabila  hanya memenuhi dua kriteria diatas, display harus dapat dipahami sebaik mungkin sesuai dengan pesan yang disampaikan. Menurut Barrier pemahaman dapat dibagi menjadi dua level yaitu sebagai berikut diantaranya:

  1. Kata-kata atau simbol yang digunakan didalam display mungkin terlalu sulit untuk dipahami oleh pengguna atau pekerja, contohnya adalah VELOCITY dan COOLANT mungkin kurang cepat dipahami daripada SPEED dan WATER.
  2. Pemahaman mungkin menjadi lebih sulit apabila pengguna meiliki kesulitan dalam memahami kata-kata dasar.

 

2.2       Tipe-Tipe Display

Berdasarkan tujuannya, display terdiri atas dua bagian, yaitu display umum dan display khusus. Display umum disini adalah mengenai aturan kepentingan umum, contohnya display tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan ”Jagalah Kebersihan” dan display khusus itu sendiri mengenai aturan keselamatan kerja khusus, contohnya adalah ”Awas Tegangan Tinggi”.

Berdasarkan lingkungan display terbagi dalam dua macam yaitu display statis dan display dimanis. Pengertian dari display statis itu sendiri adalah display yang memberikan sesuatu informasi yang tidak tergantung terhadap waktu, contohnya adalah peta (informasi yang menggambarkan suatu kota). Pengertian display dinamis adalah display yang menggambarkan perubahan menurut waktu dengan variabel, contohnya adalah jarum speedometer dan mikroskop.

Berdasarkan informasi menurut Nurmianto (1991), display terbagi atas tiga macam yaitu diantaranya sebagai berikut:

  1. Display Kualitatif

Display yang merupakan penyederhanaan dari informasi yang semula berbentuk data numerik dan untuk menunjukkan informasi dari kondisi yang berbeda pada suatu sistem, contohnya adalah tanda On-Off pada generator, DINGIN, NORMAL dan PANAS pada pembacaan temperatur.

  1. Display Kuantitafif

Display yang memperlihatkan informasi numerik (berupa angka nilai dari suatu variabel) dan biasanya disajikan dalam bentuk digital maupun analog.

  1. Display Representatif

Biasanya berupa sebuah Working Model atau Mimic Diagram dari suatu mesin, salah satu contohnya adalah diagram sinyal lintasan kereta api.

2.3 Penggunaan Warna Pada Visual Display

Informasi dapat juga diberikan dalam bentuk kode warna. Indera mata sangat sensitiv terhadap warna BIRU, HIJAU dan KUNING, tetapi sangat tergantung juga pada kondisi terang dan gelap. Dalam visual display sebaiknya tidak menggunakan lebih dari lima warna. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa kelompok orang yang memiliki gangguan penglihatan atau mengalami kekurangan dan keterbatasan penglihatan pada matanya. Warna merah dan hijau sebaiknya tidak digunakan bersamaan begitu pula warna kuning dan biru.

Arti penggunaan warna pada sebuah display yang sering banyak dan digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Merah mempunyai arti yaitu berupa menunjukkan larangan.
  2. Biru memiliki arti menunjukkan petunjuk.
  3. Kuning memiliki arti menunjukkan perhatian.

 

2.4 Prinsip-Prinsip Mendesain Visual Display

Menurut Bridger, R.S (1995) ada 4 (empat) prinsip dalam mendesain suatu visual display yaitu sebagai berikut.

  1. Proximity

Jarak terhadap susunan display yang disusun secara bersama-sama dan saling memiliki dapat membuat suatu perkiraan atau pernyataan

  1. Similarity

Menyatakan bahwa item-item yang sama akan dikelompokkan bersama-sama (dalam konsep warna, bentuk dan ukuran) bahwa pada sebuah display tidak boleh menggunakan lebih dari tiga warna.

  1. Symetry

Menjelaskan perancangan untuk memaksimalkan display, artinya elemen-elemen dalam perancangan display akan lebih baik dalam bentuk simetrikal, antara tulisan dan gambar harus seimbang.

  1. Continuity

Menjelaskan sistem perseptual mengekstrakkan informasi kualitatif menjadi satu kesatuan yang utuh.

Seorang peneliti bernama Berger pernah menyelidiki, berapa jauh orang dapat melihat huruf berdasarkan perbandingan antara tebal dan tinggi huruf yang berbeda-beda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk huruf yang berwarna putih dengan dasar hitam perbandingannya 1:13.3 merupakan yang paling baik, dalam arti kata dapat dilihat dari tempat yang paling jauh terhadap yang lainnya yaitu dari jarak 36.5 meter. Sedangkan untuk huruf yang berwarna hitam dengan dasar putih perbandingannya 1:8 merupakan perbandingan terbaik, yaitu dapat terlihat  dari jarak 33.5 meter.

Adapun rumus untuk menentukan tinggi huruf atau angka, lebar huruf, tebal huruf dan jarak antara 2 kata adalah sebagai berikut:

  1. Tinggi huruf atau angka dalam mm (H) =
  2. Tinggi huruf kecil     = H
  3. Tebal huruf besar    = H
  4. Tebal huruf kecil                 = H
  5. Jarak antara 2 huruf                        = H
  6. Jarak antara huruf dan angka           = H
  7. Jarak antara 2 kata                         = H
  8. Lebar huruf besar               = H

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Display

Display sebagai bagian dari informasi yang membantu dalam memberikan informasi kepada pekerja mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya.

Berikut ini adalah kelebihan yang  terdapat pada display yaitu lebih natural, memberikan dimensi yang berbeda, sebagai tanda untuk spesifikasi, mempermudah informasi agar lebih cepat diterima dan mengurangi tingkat kesalahan yang mungkin terjadi. Berikut ini pula adalah kekurangan yangb terdapat pada display, yaitu dapat membingungkan, lebih mengarah pada informal, dapat menyebabkan rasa kelelahan atau fatique, tidak bagi penderita buta warna dan dapat menimbulkan reaksi yang salah bagi pembaca.

 

BAB III

PENGUMPULAN DATA

3.1 Flowchart Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data untuk modul display, tahapannya dijelaskan dalam bentuk flowchat. Setiap tahapan dalam flowchart merupakan prosuder yang dilakukan saat melakukan pengumpulan data. Berikut dapat dilihat pada Gambar 3.1 untuk lebih jelas tentang tampilan  flowchart pengumpulan data.

Langkah pertama dalam tahapan pengumpulan data, yakni penentuan jenis display untuk masing kelompok dan display yang akan dirancang adalah kalender meja untuk bulan juli dan agustus. Setelah jenis display ditentukan untuk setiap masing kelompok, lalu menyiapkan alat yakni pensil dan spidol berwarna serta bahan yang digunakan yakni selembar kertas kosong untuk membuat rancangan display.

Setelah dirasa alat dan bahan sudah lengkap, selanjutnya mulai menentukan tema yang sesuai, dalam hal ini tema yang ditampilkan pada rancangan display adalah tema yang berdasarkan prinsip ergonomi. Setelah mendapatkan ide yang tepat untuk penentuan tema yang sesuai dengan prinsip ergonomi, lalu merancang display dengan membuat rancangan awal display yang ditorehkan pada selembar kertas kosong dengan menggunakan pensil. Bila rancangan awal display sudah sesuai, maka rancangan display sudah siap untuk menuju tahapan berikutnya dan siap untuk diberi warna yang sesuai dengan menggunakan spidol, namun bila rancangan awal belum sesuai, maka harus melakukan rancangan display kembali hingga didapat rancangan yang sesuai.

Selanjutnya merapihkan alat dan bahan yang sudah digunakan dalam perancangan display untuk diletakkan kembali pada tempatnya. Langkah berikutnya untuk hasil akhir rancangan awal display pada kalender meja, kemudian ditampilkan agar mernjadi perbandingan dengan hasil rancangan display kelompok lain dan semua berlaku untuk semua kelompok.

3.2 Peralatan yang Digunakan

Alat dan bahan yang digunakan beserta penjelasan fungsinya dalam proses pengumpulan data yang dilakukan dengan merancang display kalender meja, sebagai berikut.

  1. Pensil, digunakan untuk merancang display awal kalender meja.
  2. Spidol, digunakan untuk memberi warna pada rancangan awal display agar tampilannya menarik.
  3. Selembar kertas kosong, digunakan sebagai media perancangan display kalender meja.

Kemudian alat yang digunakan untuk merancang display, adalah sebagai berikut.

  1. Komputer, digunakan sebagai perangkat utama dalam proses parancangan display, mulai dari pengeditan display secara keseluruhan.
  2. Software Microsoft Visio 2003, digunakan sebagai program yang digunakan untuk menjadikan hasil rancangan display yang lebih menarik.

 

BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISA

 

4.1 Pembahasan

Bagian ini mencakup beberapa penjelasan diantaranya deskripsi produk display, proses pembuatan display dan analisis yang terbagi atas analisis prinsip dan tipe display, analisis ukuran dan warna, serta analisis kelebihan dan kekurangan.

 

4.1.1    Deskripsi Produk Display

Kalender meja yang dirancang telah didesain menyesuaikan prinsip ergonomi dan dikombinasikan dengan penentuan display yang semenarik mungkin, sehingga tampilan detail kalender meja secara keseluruhan mudah dilihat saat diposisikan pada suatu kondisi lingkungan tertentu. Kalender meja yang dirancang dapat terlihat pada jarak 200 cm. Selanjutnya rancangan display pada kalender meja disesuaikan dengan penentuan ukuran antara lain tinggi huruf, tebal huruf, jarak antara 2 huruf, jarak antara 2 kata, dan lebar huruf. Kemudian display yang dirancang menampilkan sebuah gambar yang menerapkan prinsip ergonomi, sehingga selain berfungsi sebagai informasi untuk mengetahui hari dan tanggal, namun juga memberikan kesan tampilan kalender meja yang indah dipandang dan unik tentunya.

Kelebihan yang dapat diambil dari rancangan display kalender meja yang didesain, yakni ukurannya yang minimalis, sehingga mudah diletakkan pada tempat yang relatif  tidak terlalu luas. Selain itu kalender meja dapat berguna untuk sebuah bingkisan maupun pemberian hadiah awal tahun, karena kalender umumnya selalu diperlukan oleh siapapun yang khususnya selalu memiliki banyak aktivitas dalam periode satu tahun. Kemudian tidak terlepas dari tampilan kalender saja, namun pesan tulisan yang tertera pada kalender dapat memberikan inspirasi yang dikombinasikan dengan gambar yang menarik. Berbicara kelebihan ada pula kekurangan, yakni yang dapat diamati dari kekurangan desain untuk display kalender meja yang dirancang adalah tampilan display kalender hanya dalam ruang lingkup ergonomi, sehingga mungkin sangat tepat untuk kalangan yang mengerti tentang ergonomi. Selain itu rancangan display tidak dapat dirasakan bagi penderita yang mengalami gangguan buta warna.

 

Gambar 4.1 Gambar Display Kalender Meja

 

4.1.2 Proses Pembuatan Display

Proses pembuatan display untuk kalender meja dimulai dengan menentukan ide rancangan display yang bertemakan prinsip ergonomi. Langkah berikutnya  membuat rancangan display, yakni proses penentuan rancangan  awal display. Setelah rancangan awal dibuat, selanjutnya menentukan ukuran huruf  dan warna yang akan digunakan, agar tampilan display menarik dan mudah dipahami.

Penentuan ukuran huruf disesuaikan dengan jarak pandang yang tepat yakni 200 cm. Jarak yang ditentukan telah diperhitungkan sebelumnya, agar display mudah terlihat saat diposisikan dengan jarak 200 cm. Adapun perhitungan ukuran huruf  yang digunakan dalam perancangan display pada kalender meja adalah sebagai berikut.

  1. Tinggi huruf besar atau angka dalam mm (H)  =

 

  1. Tebal huruf besar =  H
  2. Jarak antara 2 huruf  =  H
  3. Jarak antara 2 kata = H
  4. Lebar huruf besar  H

Selanjutnya penggunaan warna untuk rancangan display adalah warna biru, putih, hijau dan hitam. Warna biru digunakan sebagai warna pada gambar animasi dan angka pada jam, warna putih sebagai background jam, serta warna hitam dan hijau digunakan sebagai background keseluruhan display, yang diperpadukan dengan pola berbentuk kotak persegi dan warna hijau digunakan pula sebagai warna dari tulisan kalimat pada display.

Ukuran huruf untuk rancangan display yang sudah didapat dari hasil perhitungan, kemudian ditampilkan dalam sebuah etiket agar mudah untuk mengetahui jarak huruf sesungguhnya dari display yang dirancang. Pada Gambar 4.2 akan ditampilkan sebuah etiket yang berisikan jarak huruf dari display yang dirancang, beserta pemberian angka pasti yang disertakan untuk tinggi huruf besar,  tebal huruf besar, jarak antara 2 huruf, jarak antara 2 kata, dan lebar huruf besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2 Analisis

Bagian ini terbagi atas analisis analisis prinsip dan tipe display, analisis ukuran dan warna, serta analisis kelebihan dan kekurangan. Berikut ini penjelasan analisis dari rancangan display kalender meja.

 

4.2.1 Analisis Prinsip dan Tipe Display

Tampilan display kalender meja yang dirancang menerapkan prinsip display, antara lain  proximity yakni agar proporsi jarak antara gambar dan tulisan seimbang, sehingga display mudah dilihat pada suatu kondisi lingkungan tertentu. Prinsip symetry yakni agar tampilan gambar dan ukuran tulisan tersusun secara simetrikal. Prinsip continuity agar tampilan display memiliki interaksi antara tulisan dan gambar, serta warna yang digunakan. Prinsip similarity tidak digunakan, karena rancangan display menggunakan lebih dari tiga warna, sehingga tidak memenuhi salah satu prinsip kriteria similarity yaitu tidak diperbolehkan menggunakan lebih dari tiga warna.

Selanjutnya tipe display yang digunakan pada rancangan display, antara lain tipe display berdasarkan tujuan yakni display khusus, karena hanya diperuntuhkan bagi kalangan yang memahami tentang kaidah ergonomi. Tipe display berdasarkan lingkungan yakni display statis, karena kalender meja dapat dilihat pada situasi kapan saja, sehingga tidak tergantung waktu. Tipe display berdasarkan informasi yakni display kualitatif, karena kalender meja merupakan display yang menampilkan informasi numerik berupa angka untuk mengetahui tanggal. Tipe display berdasarkan panca indra yakni visual display, karena kalender meja merupakan display yang dapat dilihat oleh indra penglihatan, yang umumnya memberikan informasi bagi siapapun ketika berada pada suatu kondisi lingkungan tertentu.

 

4.2.2 Analisis Ukuran dan Warna

Display untuk kalender meja dirancang agar dapat terlihat pada jarak 200 cm, karena dengan jarak 200 cm adalah jarak normal penglihatan bagi orang yang memiliki penglihatan normal dan tampilan display dapat dengan mudah dilihat pada suatu kondisi lingkungan tertentu. Ukuran huruf  yang digunakan dalam perancangan display diantaranya tinggi huruf besar dengan ukuran 10 mm, tebal huruf besar dengan ukuran 1.67 mm, jarak antara 2 huruf  dengan ukuran 2.5 mm, jarak antara 2 kata dengan ukuran 6.67 mm dan lebar huruf besar 6.67 mm.

Selanjutnya penggunaan warna untuk rancangan display adalah warna biru, putih, hijau dan hitam. Penentuan warna digunakan bertujuan agar memberikan kesan tampilan display yang menarik dan mudah dipahami maksud dari tampilan display tersebut bagi orang yang memiliki penglihatan normal. Warna biru digunakan sebagai warna pada gambar animasi dan angka pada jam, warna putih sebagai background jam, serta warna hitam dan hijau digunakan sebagai background keseluruhan display, yang diperpadukan dengan pola berbentuk kotak persegi dan warna hijau digunakan pula sebagai warna dari tulisan kalimat pada display.

 

4.2.3    Analisis Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan yang dapat dianalisis dari rancangan display, yakni rancangan display disesuaikan menurut prinsip ergonomi. Kemudian rancangan display yang dirancang dapat terlihat pada jarak 200 cm, karena jarak tersebut adalah jarak normal penglihatan bagi orang yang memiliki penglihatan normal dan tampilan display dapat dengan mudah dilihat pada suatu kondisi lingkungan tertentu.  Rancangan display kalender meja yang didesain memiliki ukurannya yang minimalis, sehingga mudah diletakkan pada tempat yang relatif  tidak terlalu luas.

Kekurangan yang dapat dianalisis dari rancangan display kalender meja, tampilan display kalender hanya dalam ruang lingkup ergonomi, sehingga mungkin sangat tepat untuk kalangan yang mengerti tentang ergonomi. Selain itu rancangan display tidak dapat dirasakan bagi penderita yang mengalami gangguan buta warna.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan diambil dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dan menjawab dari tujuan. Berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil:

  1. Tipe display yang digunakan dalam perancangan display kalender meja adalah tipe display berdasarkan tujuan yakni display khusus, tipe display berdasarkan informasi yaitu menggunakan display kualitatif tipe display berdasarkan lingkungan yakni display statis, tipe display berdasarkan panca indra yakni visual display.
  2. Prinsip display yang digunakan dalam perancangan display kalender meja menerapkan prinsip proximity, symetry dan continuity.
  3. Ukuran huruf dan jarak huruf yang digunakan dalam perancangan display kalender meja, diantaranya tinggi huruf besar dengan ukuran 10 mm, tebal huruf besar dengan ukuran 1.67 mm, jarak antara 2 huruf  dengan ukuran 2.5 mm,  jarak antara 2 kata dengan ukuran 6.67 mm dan lebar huruf besar 6.67 mm.
  4. Kelebihan yang dapat dianalisis dari rancangan display, yakni rancangan display yang disesuaikan menurut prinsip ergonomi. Kemudian rancangan display yang dirancang dapat terlihat pada jarak 200 cm dengan menyesuaikan penentuan ukuran huruf dan jarak huruf antara lain tinggi huruf, tebal huruf, jarak antara 2 huruf, jarak antara 2 kata, dan lebar huruf. Rancangan display kalender meja yang didesain memiliki ukurannya yang minimalis. Kekurangan yang dapat dianalisis dari rancangan display kalender meja, tampilan display kalender hanya dalam ruang lingkup ergonomi, sehingga mungkin sangat tepat untuk kalangan yang mengerti tentang ergonomi. Selain itu rancangan display tidak dapat dirasakan bagi penderita yang mengalami gangguan buta warna.

 

 

5.2 Saran

Berikut beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar pada proses pengukuran selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Saran yang dapat diberikan adalah penentuan jarak untuk melihat tampilan display agar mudah terlihat serta pesan dari tampilan display yang dapat memberi inspirasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nurmianto, Eko. 1991 Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Prima Printing, Surabaya.

Sutalaksana, Iftikar Z. 1979. Teknik Perancangan Sistem Kerja. ITB, Bandung.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/display/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Antropometri

 

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 2

PENGUKURAN DIMENSI TUBUH MANUSIA

(ANTROPOMETRI)

Disusun Oleh:

Nama/NPM                 : 1. Agustinus / 30408063

2. Dery Indra  / 30408266

3. Nadya Jeans / 30408928

4. Taruna Jaya / 30408818

Kelompok                    : I (Satu)

Hari/Tanggal                 : Sabtu / 2 Oktober 2010

Shift                             : I (Satu)

Asisten Pembimbing      : Bramastha Bintang

 

 

LABORATORIUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

JAKARTA

2010

 

ABSTRAKSI

Agustinus (30408063), Dery (30408266), Nadya Jeans (30408928), Taruna Jaya (30408818)

PENGUKURAN DIMENSI TUBUH MANUSIA (ANTROPOMETRI)

Laporan Akhir, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, 2009 – 2010.

Kata Kunci: Antropometri, Perancangan Meja Staff, Dimensi Tubuh Manusia

 

Salah satu cara untuk merancang suatu produk adalah dengan menggunakan data dimensi tubuh manusia yaitu Antropometri. Antropometri adalah suatu studi yang menyangkut pengukuran dimensi tubuh manusia dan aplikasi rancangan yang menyangkut geometri fisik, massa dan kekuatan tubuh. Produk yang akan dirancang menggunakan data Antropometri adalah meja staff. Meja ini harus diancang dengan baik agar dapat digunakan dengan nyaman. Data Antropometri yang digunakan adalah data Antropometri dari praktikan kelas 3ID02 sebanyak 38 orang. Data Antropometri untuk data statis sebanyak 39 dan data dinamis sebanyak 3. Data Antropometri yang digunakan untuk merancang meja staff hanya tinggi siku duduk (Tsd) untuk menentukan tinggi meja staff, tinggi lutut duduk (Tld) untuk menentukan panjang dan lebar sekat, rentangan tangan (Rt) untuk menentukan panjang meja staff, jangkauan tangan ke depan (Jktd) untuk menentukan lebar meja staff, lebar pinggang (Lpg) untuk menentukan tinggi meja, dan panjang lengan bawah (Plb) untuk menentukan lebar laci. Rancangan meja staff dengan menggunakan data antropometri yakni antara lain panjang meja adalah 160 cm, lebar meja adalah 84 cm, tinggi meja adalah 78 cm, panjang laci adalah 52 cm, lebar laci adalah 30 cm, panjang sekat adalah 61 cm, dan lebar sekat adalah 25 cm.

Meja staff yang dirancang ini memiliki kelebihan adalah disesuaikan dengan dimensi tubuh dan kelemahannya adalah hanya untuk populasi kelas 3ID02 diantaranya. Kemudian tipe perancangan yang digunakan untuk rancangan meja staff adalah data ekstrim dengan menggunakan persentil 95%.

 

 

(Daftar Pustaka 1991 – 2010)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya zaman, manusia kini semakin kreatif dalam menciptakan sebuah produk yang mampu bersaing dipasaran. Salah satu produk yang mampu bersaing dipasaran tentunya tidak hanya dari segi penampilan yang menarik, tetapi sebuah produk haruslah memenuhi rasa nyaman saat digunakan. Rasa nyaman yang didapat dari sebuah produk terkadang hanya dapat dinilai pada sebagian orang, sehingga dibutuhkan rancangan sebuah produk yang dapat disesuaikan dengan dimensi tubuh manusia pada umumnya. Adapun rancangan produk yang terbaik, harus mengalami tahap penelitian dan salah satunya dengan menggunakan metode antropometri. Metode antropometri merupakan sebuah metode dengan melakukan pengukuran dimensi tubuh pada seorang manusia maupun beberapa populasi manusia tertentu yang mungkin dalam jumlah banyak, sehingga akan didapat hasil rancangan sebuah produk yang memenuhi rasa nyaman saat digunakan.

Oleh karena, itu dirancanglah meja staff yang dibuat berdasarkan data dimensi tubuh manusia agar menjadi contoh rancangan sebuah prosduk yang memberikan rasa nyaman. Dirancangnya meja staff ini karena perancangannya tidak begitu sulit dan data dimensi tubuh yang digunakan dibatasi. Perancangan meja staff juga dirancang dengan memperhitungkan nilai ergonomisnya.

 

1.2       Perumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dari latar belakang dapat dirumuskan pada perumusan masalah. Perumusan masalah pada modul Antropometri ini adalah bagaimana merancang sebuah meja staff dengan menggunakan data dimensi tubuh manusia.

 

 

 

1.3       Pembatasan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam laporan akhir praktikum tentang Antropometri lebih jelas dengan adanya batasan-batasan masalah. Adapun batasan-batasan masalahnya sebagai berikut:

  1. Tempat dan waktu

Praktikum hanya dilaksanakan di Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi pada hari Senin, tanggal 27 September 2010  pada pukul 09.30 WIB bertempat di Universitas Gunadarma

  1. Data Antropometri yang Diukur

Data antropometri statis dengan jumlah 39 data dan  data antropometri dinamis dengan jumlah 3 data, untuk setiap praktikan 3ido2 sebanyak 38 orang.

3.   Produk yang Dirancang

Produk yang dirancang adalah hanya sebuah meja staff.

4.   Tipe Perancangan

Tipe perancangan yang digunakan adalah data ekstrim, dengan menggunakan persentil 95%.

 

1.4       Tujuan

Penulisan dari laporan akhir ini memiliki tujuan yang dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Adapun tujuan laporan akhir ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui data dimensi tubuh yang digunakan dalam perancangan meja staff.
  2. Mengetahui tipe perancangan dan persentil yang digunakan dalam perancangan meja staff.
  3. Mengetahui ukuran perancangan meja staff menggunakan data dimensi tubuh manusia.
  4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk yang akan dirancang yaitu meja staff.

 

1.5        Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dibuat untuk mempermudah pembaca dalam memahami serta mengambil kesimpulan dari pembahasan dalam Laporan Akhir Antropometri Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini, yang terdiri dari 5 (lima) bab. Adapun sistematika penulisan laporan akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB I     PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, perumusan masalah dari modul antropometri, tujuan diadakannya praktikum antropometri. Pembatasan masalah di dalam praktikum antropometri juga terdapat dalam bab ini. Terakhir sistematika penulisan dari Laporan Akhir Antropometri Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi 2 ini.

BAB II   LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan mengenai ringkasan teori dan materi-materi yang bersangkutan dari modul antropometri.

BAB III PENGUMPULAN DATA

Bab ini memaparkan tentang flowchart pengumpulan data saat praktikum beserta penjelasannya. Terdapat juga peralatan yang digunakan selama praktikum beserta fungsinya, serta data antropometri yang diambil selama praktikum.

BAB IV  PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Bab ini berisi mengenai pembahasan dan analisis. Pembahasan berisi deskripsi dari produk yang dirancang, data antopometri yang digunakan, pengolahan data secara manual, pengolahan data menggunakan software SPSS dan perancangan produk. Analisis berisi analisis produk dan analisis perbandingan produk.

BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi mengenai kesimpulan yang didapat dari perancangan meja staff. Kesimpulan juga berisi saran-saran yang diperlukan pada pelaksanaan praktikum Analisis perancangan Kerja dan Ergonomi 2 selanjutnya.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Antropometri

Antropometri berasal dari kata antropo (manusia) dan metri (ukuran). Antropometri yaitu studi yang berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interkasi manusia.

Antropometri menurut Nurmianto (1991) adalah kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan, serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Penerapan data antropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi dari satu distribusi normal. Antropometri mengkaji masalah tubuh manusia. Informasi ini diperlukan untuk merancang suatu sistem kerja agar menunjang kemudahan pemakaian, keamanan dan kenyamanan dari suatu pekerjaan, sehingga antropometri dapat juga diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi tubuh (termasuk bentuk dan ukuran tubuh dengan desain alat-alat yang digunakan manusia.

Antropometri membicarakan ukuran tubuh manusia dan aspek-aspek segala gerakan manusia maupun postur dan gaya-gaya yang dikeluarkan, dengan bantuan dasar-dasar antropometri, maupun aspek-aspek pandangan dan medan visual, dapat membantu mengurangi beban kerja dan memperbaiki untuk kerja dengan cara menyediakan tata letak tempat kerja yang optimal, termasuk postur kerja yang baik serta landasan yang dirancang dengan baik.

Antropometri merupakan bagian dari ergonomi yang secara khusus mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi linear, serta, isi dan juga meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh. Secara devinitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan ukuran dimensi tubuh manusia meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh manusia.

Salah satu pembatas kinerja tenaga kerja, guna mengatasi keadaan tersebut diperlukan data antropometri tenaga kerja sebagai acuan dasar desain sarana prasarana kerja. Antropometri sebagai salah satu disiplin ilmu yang digunakan dalam ergonomi memegang peran utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana kerja. Antropometri dapat dibagi menjadi:

  1. Antropometri Statis

Pengukuran dimensi linear tubuh manusia dalam posisi statis (diam). Posisi pengukuran ini biasanya sudah distandarkan.

  1. Antropometri Dinamis

Pengukuran posisi anggota badan sebagai hasil dari gerakan tubuh, contohnya adalah sudut putar pergelangan tangan dan sudut putar pergelangan kaki.

 

2.2 Data Antropometri

Data antropometri adalah rata-rata dari hasil pengukuran yang digunakan sebagai data untuk perancangan peralatan. Mengingat bahwa keadaan dan ciri dapat membedakan satu dengan yang lainnya, maka dalam perancangan yang digunakan data antropometri menurut Wignjosoebroto (2003) terdapat tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim (minimum atau maksimum). Prinsip ini digunakan apabila seseorang mengharapkan agar fasilitas yang akan dirancang tersebut dapat dipakai dengan enak dan nyaman oleh sebagian besar orang-orang yang akan memakainya. Contohnya adalah ketinggian kontrol maksimum digunakan tinggi jangkauan ke atas dari orang pendek, ketinggian pintu disesuaikan dengan orang yang tinggi dan lain-lain.
  2. Prinsip perancangan fasilitas yang biasa digunakan. Prinsip ini digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut dapat menampung atau bisa dipakai dengan eank dan nayaman oleh semua orang yang mungkin memerlukannya. Biasanya rancangan ini memerlukan biaya lebih mahal tetapi memiliki fungsi yang lebih tinggi. Contohnya adalah kursi kemudi yang bisa diatur maju dan mundur serta kemiringan sandarannya, tinggi kursi sekretaris atau tinggi permukaan mejanya.
  3. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakainya. Prinsip ini hanya digunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan bisa lebih banyak rugi dari pada untungnya, ini berarti hanya sebagian kecil dari orang-orang yang merasa enak dan nyaman ketika menggunakan fasilitas tersebut.

Data anropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:

  1. Perancangan area kerja (work station, mobile, interir dan lainnya)
  2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas dan sebagainya.
  3. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja dan sebagainya.
  4. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa data antropometri dapat menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasi dimensi lain dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut.

Proses untuk mendesain peralatan kerja secara ergonomi yang digunakan dalam lingkungan sehari-hari atau mendesain peralatan yang ada pada lingkungan seharusnya disesuaikan dengan manusia di lingkungan tersebut. Apabila tidak ergonomis akan menimbulkan berbagai dampak negatif dari manusia tersebut, dampak negatif bagi manusia tersebut akan terjadi dalam jangka waktu pendek (short term) maupun jangka panjang (long term).

Manusia pada umumnya berdeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia, yaitu:

  1. Umur atau Usia

Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan. Manusia dapat digolongkan atas beberapa kelompok usia yaitu balita, anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia.

  1. Jenis Kelamin

Pada umumnya dimensi tubuh pria dan wanita ada perbedaan yang signifikan diantara rata-rata dan nilai perbedaan ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen badannya daripada wanita. Oleh karenanya data antropometri sangat diperlukan dalam perancangan sebuah alat atau produk. Secara umum pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar, kecuali dada dan pinggul.

  1. Suku Bangsa

Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnik tertentu akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya.

4.   Jenis Pekerjaan atau Latihan

Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan atau rekan kerjanya.

2.3       Prinsip Perancangan Produk atau Fasilitas Dengan Ukuran Rata-Rata Data Antropometri

Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia. Permasalahan pokok yang dihadadapi dalam hal ini justru sedikit sekali yang berbeda dalam ukuran rata-rata, sedangkan bagi yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan tersendiri.

Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa saran atau rekomendasi yang bisa diberikan sesuai langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pertama kali harus menetapkan anggota tubuh mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
  2. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, dalam hakl ini perlu juga diperhatikan apakah harus menggunakan data dimensi tubuh statis atau data dimensi tubuh dinamis.
  3. Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasi dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
  4. Tetapkan prinsip ukuran yang harus di ikuti, misalnya apakah rancangan untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang  fleksibel atau ukuran rata-rata.

2.4       Persentil

Persentil adalah suatu nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari orang yang memiliki ukuran pada atau dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh, persentil ke-95 akan menunjukkan 95% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran tersebut, sedangkan persentil ke-5 akan menunjukkan 5% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran itu. Dalam antropometri, angka persentil ke-95 akan menggambarkan ukuran manusia yang “terbesar” dan persentil ke-5 sebaliknya akan menunjukkan ukuran “terkecil”. Bilamana diharapkan ukuran yang mampu mengakomodasi 95% dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2.5-th dan 97.5-th persentil sebagai batasan-batasannya.

(http://bambangwisanggeni.wordpress.com/2010/03/02/antropometri/)

 

BAB III

PENGUMPULAN DATA

3.1 Flowchart Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data untuk modul antropometri, tahapannya dijelaskan dalam bentuk flowchat. Setiap tahapan dalam flowchart merupakan prosedur yang dilakukan saat melakukan pengumpulan data. Berikut dapat dilihat pada Gambar 3.1 untuk lebih jelas tentang tampilan flowchart pengumpulan data.

 

 

Langkah pertama dalam tahapan pengumpulan data adalah menyiapkan alat diantaranya kursi antropometri, meteran jahit, meteran bangunan, dua buah batang kayu untuk membantu proses pengukuran, busur, dan lembar data antropometri. Setelah menyiapkan alat, kemudian tahapan berikutnya adalah melakukan pengukuran dimensi tubuh untuk 38 mahasiswa dengan menggunakan alat yang tersedia, untuk 39 data antropometri statis dan 3 data antropometri dinamis. Setelah melakukan pengukuran  dimensi tubuh, keseluruhan data antropometri dicatat dalam lembar data antropometri.

Data antropometri dikatakan mencukupi, bila jumlah keseluruhan data yakni sebanyak 42 data antropometri. Selanjutnya data antropometri yang diperoleh saat melakukan pengukuran, dicatat dalam lembar data antropometri. Proses berikutnya untuk data antropometri yang diperoleh bila sudah sesuai, maka berlanjut ke proses berikutnya untuk menentukan produk yang akan dibuat. Namun jika data antropometri belum sesuai, maka harus melakukan pengukuran kembali. Selanjutnya bila data antropometri sudah mencukupi, maka dapat merapikan alat untuk diletakkan kembali pada tempatnya. Langkah berikutnya menentukan produk yang akan dirancang dari hasil pengukuran antropometri, dalam hal ini produk yang akan dirancang adalah meja staff.

3.2 Peralatan yang Digunakan

Peralatan yang digunakan beserta penjelasan fungsinya dalam proses pengumpulan data yang dilakukan dengan mengukur dimensi tubuh dari 38 mahasiswa untuk membuat rancangan produk meja staff , sebagai berikut.

  1. Kursi antropometri, digunakan untuk mengukur seluruh bagian dimensi tubuh.
  2. Meteran jahit dan meteran bangunan, digunakan untuk mengukur dimensi tubuh secara manual.
  3. Busur, digunakan untuk mengukur ketepatan sudut putaran pada dimensi tubuh.
  4. Dua buah batang kayu, digunakan untuk membantu pengukuran dimensi tubuh yang sulit dijangkau.
  5. Lembar data antropometri, digunakan untuk mencatat keseluruhan hasil pengukuran dimensi tubuh yang terdiri dari 39 data antropometri statis dan 3 data antopometri dinamis.

 

3.3 Data Antropometri

Bagian ini menampilkan keseluruhan data antropometri untuk jumlah 10 kelompok, yang tercantum dalam lembar data antropometri dinamis dan lembar data antropometri statis. Berikut ini adalah keseluruhan data antropometri dari seluruh kelompok, mulai dari data antropometri kelompok 1 hingga kelompok 10.

 

Tabel 3.1 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 1

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : NADYA, AGUSTINUS, TARUNA, DERY    
UMUR :  19, 20, 20, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  P, L, L, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Nadya Agus Taruna Dery
1 Berat badan Bb 49 80 46 43
2 Tinggu duduk tegak Tdt 85 88 83,5 88
3 Tinggi duduk normal Tdn 80 83 82 86
4 Tinggi bahu duduk Tbd 57 57 67 61
5 Lebar bahu Lb 41 46 41,5 40
6 Tinggi mata duduk Tmd 72 76 66 70,5
7 Tinggi siku duduk Tsd 25 22 22,5 20,5
8 Siku ke siku Sks 34 42,5 39,5 30
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 50 58 42 50
10 Lebar sandaran duduk Lsd 21 22 17,2 21
11 Tinggi pinggang Tpg 20 17 21 17
12 Lebar pinggang Lpg 31 31 27,7 26,5
13 Tebal perut duduk Tpd 17 23,5 15,5 15,5
14 Tebal paha Tp 11 14 16,5 12
15 Tinggi lulut duduk Tld 46 52,5 43 42,5
16 Tinggi popliteal Tpo 38 41,5 40 50,5
17 Pantat popliteal pp 41 47,5 47 46
18 Pantat ke lutut Pkl 53 60 55 54
19 Lebar pinggul Lp 32 32 30,9 29
20 Tinggi badan tegak Tbt 160 170,4 161,5 166
21 Tinggi mata berdiri Plb 144 158,1 105 154
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 131,5 141 89 136,5
23 Tinggi siku berdiri Tsb 97 104 54 103,5
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 88 93,5 51 97
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 81,5 85,8 43 86
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 42 47,2 47 51
27 Panjang lengan bawah Plb 26 25 23 28
28 Tebal dada berdiri Tdb 21 23 16 17,5
29 Tebal perut berdiri Tpb 18,5 21 14 17,5
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 200 240 199 210
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 85 87,5 77 82
32 Rentangan tangan Rt 158 170 163 172
33 Pangkal ke tangan Pkt 10 11 10,5 11
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 6 8,3 7,5 7
35 Lebar tangan Lt 8,5 12 11 11
36 Tebal tangan Tt 3,2 3,5 3,5 3,4
37 Panjang jari 1 Pj 1 6 6 7 6
  2 Pj 2 7 7,5 7,2 7,6
  3 Pj 3 7,4 7,7 7,8 8,3
  4 Pj 4 7,2 7,1 7,2 7,7
  5 Pj 5 5,5 6,5 5,8 6,9
38 Panjang kaki Pk 23,5 25,5 25 24,5
39 Lebar kaki Lk 7,5 10 10 9,5
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Nadya Agus Taruna Dery
1 Putaran lengan Pl 63 35 65 54
2 Putaran telapak tangan Ptt 65 22 41 42
3 Sudut telapak kaki Stk 81 30 51 74

Tabel 3.2 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 2

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : HEIDY, RIDWAN, DEDI, ARDAN    
UMUR :  20, 20, 20, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  P, L, L, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Heidy Ridwan Dedi Ardan
1 Berat badan Bb 48 63 45 64
2 Tinggu duduk tegak Tdt 83 90 82 89
3 Tinggi duduk normal Tdn 83 88 82 86
4 Tinggi bahu duduk Tbd 56 57 56 59
5 Lebar bahu Lb 40 45 44 45
6 Tinggi mata duduk Tmd 74 76 72 76
7 Tinggi siku duduk Tsd 26 33 29 33
8 Siku ke siku Sks 42 40 40 49
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 50 52 50 69
10 Lebar sandaran duduk Lsd 30 23 25 30
11 Tinggi pinggang Tpg 26 25 15 23
12 Lebar pinggang Lpg 27 31 33 31
13 Tebal perut duduk Tpd 17 18 18 18
14 Tebal paha Tp 32 38 36 41
15 Tinggi lulut duduk Tld 48 52 48 49
16 Tinggi popliteal Tpo 42 41,8 41 42,5
17 Pantat popliteal pp 51,5 50,5 47 46,5
18 Pantat ke lutut Pkl 42,3 64,5 57 61,5
19 Lebar pinggul Lp 32 35 31 36
20 Tinggi badan tegak Tbt 161 167 161 165
21 Tinggi mata berdiri Plb 151 155 151 153,5
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 132 137 130 137
23 Tinggi siku berdiri Tsb 103 102 103 104
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 101 103 101 102
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 95 94 86 92
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 45 48 47 48
27 Panjang lengan bawah Plb 25 26 26 25
28 Tebal dada berdiri Tdb 19,5 14 16 19
29 Tebal perut berdiri Tpb 17 28 21 26
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 160 166 159 166
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 68 75 67 75
32 Rentangan tangan Rt 170 176 165 174
33 Pangkal ke tangan Pkt 10 10 10 10
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 7 8 7 8
35 Lebar tangan Lt 9 12 10 12
36 Tebal tangan Tt 3 3,5 4 4,5
37 Panjang jari 1 Pj 1 6 7,5 6,5 7
  2 Pj 2 6,5 8 7 8,5
  3 Pj 3 8 9 7,5 9
  4 Pj 4 7 8 7 8
  5 Pj 5 5,5 7 6,5 7
38 Panjang kaki Pk 23,5 25 22,5 25
39 Lebar kaki Lk 9 10 10 10
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Heidy Ridwan Dedi Ardan
1 Putaran lengan Pl 110 140 110 100
2 Putaran telapak tangan Ptt 50 60 68 75
3 Sudut telapak kaki Stk 140 130 100 120

Tabel 3.3 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 3

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : MADE, NOVI, WENDI  
UMUR :  20, 20, 20,  TAHUN  
JENIS KELAMIN :  L, L, L  
SUKU BANGSA :  INDONESIA  
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Made Novi Wendi
1 Berat badan Bb 62,5 49,5 74
2 Tinggu duduk tegak Tdt 92 83 86
3 Tinggi duduk normal Tdn 91 81,5 84,5
4 Tinggi bahu duduk Tbd 68 54 59
5 Lebar bahu Lb 44 42 44,5
6 Tinggi mata duduk Tmd 82,5 77,5 78,5
7 Tinggi siku duduk Tsd 32 23,5 33,5
8 Siku ke siku Sks 44 28 36
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 51 49 52
10 Lebar sandaran duduk Lsd 31 29,5 34
11 Tinggi pinggang Tpg 15,5 18 20
12 Lebar pinggang Lpg 30 28 31,5
13 Tebal perut duduk Tpd 20,5 20 25,5
14 Tebal paha Tp 14,5 10,5 15,5
15 Tinggi lulut duduk Tld 47 47 43
16 Tinggi popliteal Tpo 38 41 37
17 Pantat popliteal pp 44 51 46,5
18 Pantat ke lutut Pkl 56 63 62
19 Lebar pinggul Lp 32,5 26,5 38
20 Tinggi badan tegak Tbt 169,3 166,5 162
21 Tinggi mata berdiri Plb 160 155 150,5
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 140 133 136
23 Tinggi siku berdiri Tsb 106 105 96
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 95 94 94
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 84 85 81
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 45 43 39
27 Panjang lengan bawah Plb 30 28 29
28 Tebal dada berdiri Tdb 17 20 22
29 Tebal perut berdiri Tpb 24 22 24
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 215,5 210 205,5
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 71,5 76 72,5
32 Rentangan tangan Rt 170 170 172
33 Pangkal ke tangan Pkt 19 20 20
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 8 8 8
35 Lebar tangan Lt 10 9 10
36 Tebal tangan Tt 2,5 3 3
37 Panjang jari 1 Pj 1 7 7 6
  2 Pj 2 7,5 7,5 7
  3 Pj 3 8,5 8 8
  4 Pj 4 7,5 8 7
  5 Pj 5 6 6 6
38 Panjang kaki Pk 25 24,5 26
39 Lebar kaki Lk 8,5 8,5 9,5
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Made Novi Wendi
1 Putaran lengan Pl 40 40 40
2 Putaran telapak tangan Ptt 50 50 40
3 Sudut telapak kaki Stk 50 60 50

Tabel 3.4 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 4

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : TARA, ARIEF, TONI, PRIMA    
UMUR :  20, 20, 20, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  P, L, L, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Tara Arief Toni Prima
1 Berat badan Bb 36 60 60 65
2 Tinggu duduk tegak Tdt 77 83,5 85,4 88
3 Tinggi duduk normal Tdn 76 82 85 86,3
4 Tinggi bahu duduk Tbd 48 51,5 51 58
5 Lebar bahu Lb 35 41 45 44,5
6 Tinggi mata duduk Tmd 65,7 74,5 75 79,5
7 Tinggi siku duduk Tsd 27,5 23 26 27
8 Siku ke siku Sks 34,3 36,5 35,5 38,5
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 42,5 51 43,5 52
10 Lebar sandaran duduk Lsd 28 33 30 32
11 Tinggi pinggang Tpg 21,5 21 17 21
12 Lebar pinggang Lpg 22 31,5 33,5 31
13 Tebal perut duduk Tpd 14,5 20 22,5 20
14 Tebal paha Tp 14,3 14,5 15 16
15 Tinggi lulut duduk Tld 47 45 44 46
16 Tinggi popliteal Tpo 40,3 40 40 41,5
17 Pantat popliteal pp 46,5 49,5 49,5 54,5
18 Pantat ke lutut Pkl 55,5 62,5 61 66
19 Lebar pinggul Lp 30 36,5 38 32,5
20 Tinggi badan tegak Tbt 150 167 161 171
21 Tinggi mata berdiri Plb 139 155 151 160
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 125 130 133 145
23 Tinggi siku berdiri Tsb 100 101 97 109
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 101 90 82 96
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 87 80 73 80
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 44 58 42 43
27 Panjang lengan bawah Plb 26 29 24 28
28 Tebal dada berdiri Tdb 19 21 20 21
29 Tebal perut berdiri Tpb 15 18 24 20
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 191 205 210 216
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 71 74 75 78
32 Rentangan tangan Rt 158 171 169 176
33 Pangkal ke tangan Pkt 17 18 18 19
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 7 8 8 7
35 Lebar tangan Lt 8 10 10 10
36 Tebal tangan Tt 3 4 4 5
37 Panjang jari 1 Pj 1 6 6 7 7
  2 Pj 2 7 7 7 7
  3 Pj 3 8 8 8 8
  4 Pj 4 7 7 7 7
  5 Pj 5 5 6 5 6
38 Panjang kaki Pk 23 25 24 25
39 Lebar kaki Lk 8 11 9 10
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Tara Arief Toni Prima
1 Putaran lengan Pl 70 57 66 42
2 Putaran telapak tangan Ptt 51 33 38 48
3 Sudut telapak kaki Stk 51 69 65 63

Tabel 3.5 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 5

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : RAZIEF, OKE, FIRMAN, GILANG    
UMUR :  21, 20, 21, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  L, L, L, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Razief Oke Firman Gilang
1 Berat badan Bb 82 51 46 71
2 Tinggu duduk tegak Tdt 94 88 92 87
3 Tinggi duduk normal Tdn 90 82 88 82
4 Tinggi bahu duduk Tbd 63 61 63 83
5 Lebar bahu Lb 46 40 40 49
6 Tinggi mata duduk Tmd 79 78 82 73
7 Tinggi siku duduk Tsd 27 31 25 27
8 Siku ke siku Sks 51 37 33 44
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 54 48 53 48
10 Lebar sandaran duduk Lsd 20 15 13 24
11 Tinggi pinggang Tpg 24 24 23 26
12 Lebar pinggang Lpg 33 26 27 33
13 Tebal perut duduk Tpd 25 15 15 22
14 Tebal paha Tp 12 13 9 15
15 Tinggi lulut duduk Tld 55 44 53 51
16 Tinggi popliteal Tpo 44 39 45 40
17 Pantat popliteal pp 54,5 44 53 46
18 Pantat ke lutut Pkl 66 56,3 63 59
19 Lebar pinggul Lp 56 30 32 35
20 Tinggi badan tegak Tbt 181 161 180 168
21 Tinggi mata berdiri Plb 167 149 168 154
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 152 133 149 134
23 Tinggi siku berdiri Tsb 112 101 114 98
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 107 98 106 97
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 101 88 101 90
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 49 43 89 47
27 Panjang lengan bawah Plb 26 23 24 27
28 Tebal dada berdiri Tdb 23 19 18 23
29 Tebal perut berdiri Tpb 25 16 13 24
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 230 195 228 207
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 82 74 85 77
32 Rentangan tangan Rt 180 157 178 173
33 Pangkal ke tangan Pkt 11 11 10 10
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 8 8 7 8
35 Lebar tangan Lt 10 10 10 12
36 Tebal tangan Tt 5 5 4 4
37 Panjang jari 1 Pj 1 7 6 6 6
  2 Pj 2 8 7 7 7
  3 Pj 3 9 8 8 9
  4 Pj 4 8 7 7 7
  5 Pj 5 6 6 6 6
38 Panjang kaki Pk 26 22 25 24
39 Lebar kaki Lk 11 10 9 10
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Razief Oke Firman Gilang
1 Putaran lengan Pl 50 70 137 60
2 Putaran telapak tangan Ptt 60 70 160 67
3 Sudut telapak kaki Stk 40 59 78 59

 

Tabel 3.6 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 6

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : BUDI. P , MATIINU , NIA , ZUHAIRI    
UMUR :  20, 19, 20, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  L, L, P, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Budi. P Nia Matiinu Zuhairi
1 Berat badan Bb 80 51 63 50
2 Tinggu duduk tegak Tdt 92 78 86 86
3 Tinggi duduk normal Tdn 89 76 83 82
4 Tinggi bahu duduk Tbd 60 51 57 60
5 Lebar bahu Lb 44 40 43 42
6 Tinggi mata duduk Tmd 75 67 73 76
7 Tinggi siku duduk Tsd 30 18 29 25
8 Siku ke siku Sks 44 37 44 32
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 56 43 55 42
10 Lebar sandaran duduk Lsd 24 24 19 19
11 Tinggi pinggang Tpg 28 20 27 21
12 Lebar pinggang Lpg 33 26 29 32
13 Tebal perut duduk Tpd 25 21 21 21
14 Tebal paha Tp 20 13 15 10
15 Tinggi lulut duduk Tld 54 44 47 50
16 Tinggi popliteal Tpo 45 38 44 42
17 Pantat popliteal pp 50 40 52 47
18 Pantat ke lutut Pkl 60 49 47 56
19 Lebar pinggul Lp 42 40 42 33
20 Tinggi badan tegak Tbt 177 151 163 165
21 Tinggi mata berdiri Plb 167 140 154 153
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 148 127 137 138
23 Tinggi siku berdiri Tsb 115 91 107 109
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 112 86 102 98
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 89 73 88 82
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 43 40 49 51
27 Panjang lengan bawah Plb 26 22 20 23
28 Tebal dada berdiri Tdb 23 21 22 21
29 Tebal perut berdiri Tpb 23 22 20 18
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 224 190 209 215
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 81 65 73 75
32 Rentangan tangan Rt 186 153 166 173
33 Pangkal ke tangan Pkt 19 16 18 18
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 9 7 9 8
35 Lebar tangan Lt 10 9 10 10
36 Tebal tangan Tt 3 4 4 4
37 Panjang jari 1 Pj 1 8 6 8 7
  2 Pj 2 8 6 7 7
  3 Pj 3 9 7 8 8
  4 Pj 4 8 6 7 7
  5 Pj 5 6 5 6 6
38 Panjang kaki Pk 29 22 27 26
39 Lebar kaki Lk 11 11 11 10
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Budi. P Nia Matiinu Zuhairi
1 Putaran lengan Pl 85 55 59 61
2 Putaran telapak tangan Ptt 60 67 72 70
3 Sudut telapak kaki Stk 65 68 65 63

Tabel 3.7 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 7

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : EKO, BAYU, SIGIT, SILA    
UMUR :  21, 20, 20, 19 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  L, L, L, P    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Eko Bayu Sigit Sila
1 Berat badan Bb 59 59 95 43
2 Tinggu duduk tegak Tdt 91.3 89.5 88 77
3 Tinggi duduk normal Tdn 87.5 86 84 70
4 Tinggi bahu duduk Tbd 69 64.5 59 48
5 Lebar bahu Lb 42 42 48,5 42
6 Tinggi mata duduk Tmd 78 75,5 77 64
7 Tinggi siku duduk Tsd 28 23 25 18
8 Siku ke siku Sks 36 44 46 45,5
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 50 47,5 49,5 45
10 Lebar sandaran duduk Lsd 20 22,5 19 17
11 Tinggi pinggang Tpg 20 18,5 16,5 14
12 Lebar pinggang Lpg 30.5 36 41 27
13 Tebal perut duduk Tpd 21.5 20,5 32 19
14 Tebal paha Tp 17 17,5 21,5 14
15 Tinggi lulut duduk Tld 46.5 53,5 56,5 46
16 Tinggi popliteal Tpo 40 36,5 36 30
17 Pantat popliteal pp 48 48 46,5 41
18 Pantat ke lutut Pkl 59 59 60 41
19 Lebar pinggul Lp 36 39 42 27
20 Tinggi badan tegak Tbt 171 165 162 145
21 Tinggi mata berdiri Plb 159.5 152 152,5 134
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 143,5 136 135,5 120
23 Tinggi siku berdiri Tsb 109 103,5 103 93
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 95.5 98 92 88
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 89.5 91,5 87,5 79
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 47.5 44 48,5 40
27 Panjang lengan bawah Plb 29 25,5 26 24
28 Tebal dada berdiri Tdb 20 19 16,5 21,5
29 Tebal perut berdiri Tpb 18 16 33 18
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 217 204 210 185
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 83.5 86,5 80 72
32 Rentangan tangan Rt 174 170 173 145
33 Pangkal ke tangan Pkt 11 11 10 8
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 9 7 9 6
35 Lebar tangan Lt 12 11 12 8,5
36 Tebal tangan Tt 2 2 3,5 2
37 Panjang jari 1 Pj 1 6 7 6 5
  2 Pj 2 7.5 8 7 6
  3 Pj 3 8.2 8,5 7,5 6,5
  4 Pj 4 8 8,5 6,5 6
  5 Pj 5 6.5 6 6 5
38 Panjang kaki Pk 25 25 24 21
39 Lebar kaki Lk 12 10 11,5 8
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Eko Bayu Sigit Sila
1 Putaran lengan Pl 60 40 70 55
2 Putaran telapak tangan Ptt 80 70 90 66
3 Sudut telapak kaki Stk 70 80 65 75

Tabel 3.8 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 8

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : ANGGA. R, GRACE, PADLI, DWI    
UMUR :  19, 20, 20, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  L, P, L, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Angga. R Grace Padli Dwi
1 Berat badan Bb 51 47 56 63
2 Tinggu duduk tegak Tdt 89,5 81 89,2 85
3 Tinggi duduk normal Tdn 86 80 86 83,5
4 Tinggi bahu duduk Tbd 59 53 57,5 56
5 Lebar bahu Lb 39 38,5 43,6 40,5
6 Tinggi mata duduk Tmd 75,5 69 73,7 74
7 Tinggi siku duduk Tsd 25 32 30,5 23.5
8 Siku ke siku Sks 30 36 40,5 40.5
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 51,5 46 49 49
10 Lebar sandaran duduk Lsd 15 16 14,1 17
11 Tinggi pinggang Tpg 24 31,5 27,2 23,5
12 Lebar pinggang Lpg 26 26 26,5 28
13 Tebal perut duduk Tpd 21 19 22 23
14 Tebal paha Tp 12 15,5 21,5 16
15 Tinggi lulut duduk Tld 51 50 49 48
16 Tinggi popliteal Tpo 39 39 39 39
17 Pantat popliteal pp 58,3 55,5 54,2 48,4
18 Pantat ke lutut Pkl 48 44 65,1 61,2
19 Lebar pinggul Lp 29 33,5 32,5 36,7
20 Tinggi badan tegak Tbt 164 154 169 162
21 Tinggi mata berdiri Plb 153 142,5 156 150
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 135 126 140 133
23 Tinggi siku berdiri Tsb 104,5 97 103 99
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 98,5 93 104 100
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 88 85 99 92
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 44 43 47 47
27 Panjang lengan bawah Plb 26 26 26 27
28 Tebal dada berdiri Tdb 19 22,5 18 20
29 Tebal perut berdiri Tpb 17 18,5 17 19,5
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 205 192 213 201
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 73 69 76 71
32 Rentangan tangan Rt 63,5 62 68 64
33 Pangkal ke tangan Pkt 11 10 11 10,5
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 8,5 4,5 8,5 8
35 Lebar tangan Lt 12 10,5 12,5 12
36 Tebal tangan Tt 4 4 4,5 4
37 Panjang jari 1 Pj 1 6,5 6 7,5 6,5
  2 Pj 2 7 6,5 8 7,5
  3 Pj 3 7,5 7,5 8,5 8,5
  4 Pj 4 7 6,5 8 7,5
  5 Pj 5 5,5 5,5 6,5 6
38 Panjang kaki Pk 23 21 25 24
39 Lebar kaki Lk 9 7,5 10 9
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Angga. R Grace Padli Dwi
1 Putaran lengan Pl 61 36 41 33
2 Putaran telapak tangan Ptt 53 50 49 58
3 Sudut telapak kaki Stk 69 62 76 105

Tabel 3.9 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 9

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : BUDI. K, CHARLOS, GRIFIN  
UMUR :  20, 19, 20,  TAHUN  
JENIS KELAMIN :  L, L, L  
SUKU BANGSA :  INDONESIA  
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Budi. K Charlos Grifin
1 Berat badan Bb 72 97 58
2 Tinggu duduk tegak Tdt 89 94,5 86,5
3 Tinggi duduk normal Tdn 85 89 86
4 Tinggi bahu duduk Tbd 59 62 57
5 Lebar bahu Lb 46,2 50 45,3
6 Tinggi mata duduk Tmd 79 78,5 73
7 Tinggi siku duduk Tsd 28 26 19,8
8 Siku ke siku Sks 45,5 56 41
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 52 50 52
10 Lebar sandaran duduk Lsd 21 21,5 20
11 Tinggi pinggang Tpg 26 32 19,2
12 Lebar pinggang Lpg 29,5 40 27,5
13 Tebal perut duduk Tpd 25,3 32 19,7
14 Tebal paha Tp 12 17,5 12
15 Tinggi lulut duduk Tld 44,4 50 47,5
16 Tinggi popliteal Tpo 39 42,5 44
17 Pantat popliteal pp 48,7 50 52
18 Pantat ke lutut Pkl 62,5 64,5 62
19 Lebar pinggul Lp 38 42,5 35
20 Tinggi badan tegak Tbt 165 173 168,5
21 Tinggi mata berdiri Plb 153,6 161 156
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 138,5 148 142
23 Tinggi siku berdiri Tsb 96,3 112 100
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 96 110 106
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 92,5 93 95
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 44 49 45,7
27 Panjang lengan bawah Plb 27 30 29,5
28 Tebal dada berdiri Tdb 23 25 20,5
29 Tebal perut berdiri Tpb 24 29 21
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 209,5 220 221
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 67 72 74
32 Rentangan tangan Rt 168 179 176,5
33 Pangkal ke tangan Pkt 11,5 11,5 11
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 10 12 11
35 Lebar tangan Lt 13 18 14
36 Tebal tangan Tt 3 3 3
37 Panjang jari 1 Pj 1 7 8 8
  2 Pj 2 9 9 10
  3 Pj 3 10 10 11
  4 Pj 4 9 10 10
  5 Pj 5 7 7 9
38 Panjang kaki Pk 24 26 26
39 Lebar kaki Lk 10 11 11
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Budi. K Charlos Grifin
1 Putaran lengan Pl 27 40 40
2 Putaran telapak tangan Ptt 30 60 42
3 Sudut telapak kaki Stk 90 70 104

Tabel 3.10 Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Kelompok 10

Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Statis
NAMA : SOFWAN, EKI, ANGGA. D, GANJAR    
UMUR :  20, 21, 21, 20 TAHUN    
JENIS KELAMIN :  L, L, L, L    
SUKU BANGSA :  INDONESIA    
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)
Sofwan Eki Angga. D Ganjar
1 Berat badan Bb 45 73 68 72
2 Tinggu duduk tegak Tdt 84 86 90 88
3 Tinggi duduk normal Tdn 80 85 85 84
4 Tinggi bahu duduk Tbd 54 59 56 58
5 Lebar bahu Lb 40 44 45 45
6 Tinggi mata duduk Tmd 77 75 80 76
7 Tinggi siku duduk Tsd 22 25 27 27
8 Siku ke siku Sks 30 40 41 45
9 Tinggi sandaran punggung Tsp 46 46 53 51
10 Lebar sandaran duduk Lsd 28 33 32 35
11 Tinggi pinggang Tpg 19 17 22 21
12 Lebar pinggang Lpg 25 31 27 28
13 Tebal perut duduk Tpd 18 32 20 25
14 Tebal paha Tp 13 17 17 17
15 Tinggi lulut duduk Tld 51 42 48 42
16 Tinggi popliteal Tpo 41 39 38 44
17 Pantat popliteal pp 40 50 44 47
18 Pantat ke lutut Pkl 52 60 55 58
19 Lebar pinggul Lp 27 33 32 31
20 Tinggi badan tegak Tbt 164 158 177 170
21 Tinggi mata berdiri Plb 155 148 160 158
22 Tinggi bahu berdiri Tbb 136 132 144 143
23 Tinggi siku berdiri Tsb 102 98 107 105
24 Tinggi pinggang berdiri Tpgb 95 94 101 100
25 Tinggi pinggul berdiri Tplb 87 84 97 93
26 Tinggi lutut berdiri Tlb 45 43 49 48
27 Panjang lengan bawah Plb 27 27 28 30
28 Tebal dada berdiri Tdb 21 26 21 24
29 Tebal perut berdiri Tpb 15 30 22 21
30 Jangkauan tangan ke atas Jtkt 206 259 221 214
31 Jangkauan tangan ke depan Jktd 72 70 77 78
32 Rentangan tangan Rt 166 161 179 178
33 Pangkal ke tangan Pkt 19 18 20 20
34 Lebar jari 2,3,4,5 Lj 7 7 7 7
35 Lebar tangan Lt 12 12 12 11
36 Tebal tangan Tt 3,5 4 4 3,5
37 Panjang jari 1 Pj 1 6 7 7 8
  2 Pj 2 8,5 6,5 8 8,5
  3 Pj 3 9,5 8 9,5 9,5
  4 Pj 4 9 7 9 9
  5 Pj 5 7 5 7,5 7
38 Panjang kaki Pk 24 24 26 26
39 Lebar kaki Lk 10 9,5 10 10
Lembar Pengamatan Pengukuran Data Antropometri Dinamis
No Data yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (0)
Sofwan Eki Angga. D Ganjar
1 Putaran lengan Pl 180 180 150 130
2 Putaran telapak tangan Ptt 70 80 70 100
3 Sudut telapak kaki Stk 60 90 90 100

 



BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

4.1.      Pembahasan

Bagian ini mencakup beberapa penjelasan diantaranya deskripsi produk, data antropometri yang digunakan, pengolahan data secara manual, pengolahan data dengan software SPSS, perancangan produk, serta analisis yang terbagi atas analisis produk dan analisis perbandingan produk.

 

4.1.1    Deskripsi Produk

Meja staff yang dirancang untuk dapat disesuaikan dengan dimensi tubuh, sehingga memberikan kenyamanan. Kelebihannya yakni pada bagian atas meja cukup luas untuk dapat meletakkan berbagai dokumen dengan jumlah yang cukup banyak, kemudian pada bagian kolong meja terdapat dua buah laci pada sisi kiri meja staff yang difungsikan untuk menyimpan berbagai dokumen atau perlengkapan kantor dalam jumlah yang cukup banyak dan pada bagian kolong meja pun ditambahkan dua buah sekat, yang difungsikan sebagai tempat meletakkan CPU pada sekat bagian bawah, serta sebagai tempat menaruh tas pada sekat bagian atas. Selain itu pada bagian kaki meja dipasang sandaran kaki, sehingga dapat berfungsi untuk pijakan kaki.

Kekurangan dari meja staff yang dirancang adalah karena meja staff yang dirancang hanya sesuai untuk populasi mahasiswa kelas 3id02, sehingga tidak sesuai untuk populasi para pengguna meja staff pada umumnya.

 

4.1.2    Data Antropometri yang Digunakan

Data antropometri yang digunakan untuk perancangan meja staff, diantaranya tinggi siku duduk (Tsd) untuk menentukan tinggi meja staff, tinggi lutut duduk (Tld) untuk menentukan panjang dan lebar sekat, rentangan tangan (Rt) untuk menentukan panjang meja staff, jangkauan tangan ke depan (Jktd) untuk menentukan lebar meja staff, lebar pinggang (Lpg) untuk menentukan tinggi meja, dan panjang lengan bawah (Plb) untuk menentukan lebar laci. Keseluruhan data antopometri yang disebutkan diatas akan menjadi dasar rancangan meja staff.

4.1.3    Pengolahan Data Secara Manual

Data antropometri yang digunakan dalam pengolahan data secara manual, hanya untuk data antropometri yang digunakan saja, sesuai rancangan produk yang dibuat. Berikut penjelasan perhitungan secara manual.

  1. Tinggi siku duduk

a)      Mean =  =     =   26.1 cm

b)      Standar Deviasi =

=

=  3.932 cm

c)      Persentil 95%   =

= 26.1 + 1.645 x 3.932

= 32.56814 cm

 

  1. Panjang lengan bawah

a)   Mean =  =     =   26.23 cm

b)      Standar Deviasi =

=

=  2.34 cm

c)      Persentil 95%  =

= 26.23 + 1.645 x 2.34

= 30.0793 cm

 

  1. Lebar pinggang

a)      Mean =  =     =   29.83 cm

b)      Standar Deviasi =

=

=  3.88 cm

c)      Persentil 95%   =

= 29.83 + 1.645 x 3.88

= 36.2126 cm

 

  1. Tinggi lutut duduk

a)      Mean =  =     =   47.98 cm

b)      Standar Deviasi =

=

=  3.78 cm

c)      Persentil 95%   =

=  47.98 + 1.645 x 3.78   =  54.1981 cm

 

 

  1. Jangkauan tangan ke depan

a)      Mean =  =     =   75.46

b)      Standar Deviasi =

=

=  5.42 cm

c)      Persentil 95%   =

=   75.46 + 1.645 x 5.42

=   84.3759 cm

 

  1. Rentangan tangan

a)      Mean =  =     =   159.38 cm

b)      Standar Deviasi =

=

=  34.26 cm

c)      Persentil 50%   =

=   159.38 cm

 

 

 

 

Tabel 4.1 Data-Data Hasil Perhitungan Secara Manual

Dimensi Total Mean Standar Deviasi Persentil 5% Persentil

50%

Persentil 95%
Tsd 991.8

 

26.1 3.932 19.63186 26.1 32.56814
Plb 997

 

26.23 2.34 22.3807 26.23 30.0793
Lpg 1133.7

 

29.83 3.88 23.4474 29.83 36.2126
Tld 1823.4

 

47.98 3.78 41.7619 47.98 54.1981
Jktd 2837

 

75.46 5.42 45.14995 75.46 84.3759
Rt 6056.5

 

159.38 34.26 103.0223 159.38 215.7377

 

 

4.1.4    Pengolahan Data dengan Software SPSS

Data antropometri yang digunakan dalam pengolahan data dengan software SPSS, yakni keseluruhan data yang diperoleh dari hasil pengukuran. Berikut ini tampilan pengolahan data dengan software SPSS.

 

 

Gambar 4.1 Output Software Pengolahan Data Antropometri

 

Gambar 4.2 Output Software Pengolahan Data Antropometri (Lanjutan)

 

 

Gambar 4.3 Output Software Pengolahan Data Antropometri (Lanjutan)

 

 

Gambar 4.4 Output Software Pengolahan Data Antropometri (Lanjutan)

 

 

Gambar 4.5 Output Software Pengolahan Data Antropometri (Lanjutan)

 

 

Gambar 4.6 Output Software Pengolahan Data Antropometri (Lanjutan)

4.1.5    Perancangan Produk

Ukuran perancangan meja staff yang didapat dari data dimensi tubuh manusia diambil dari hasil perhitungan secara manual, sebab setiap nilai dihitung dengan teliti satu demi satu dengan menggunakan rumus yang ada, sehingga data yang dihasilkan lebih akurat untuk rancangan meja staff. Urutan perancangan produk meja staff diantaranya, panjang meja dari data rentangan tangan yaitu 160 cm. Lebar meja dari data jangkauan tangan ke depan yaitu 84 cm. Tinggi meja dari data tinggi siku duduk ditambah lebar pinggang yaitu 78 cm. Lebar laci dari data panjang lengan bawah yaitu 30 cm. Panjang laci dari data setengah panjang meja dikurangi lebar laci yaitu 52 cm. Kemudian untuk panjang sekat dari tinggi lutut duduk yaitu 61 cm serta lebar sekat dari setengah tinggi lutut duduk 25 cm.

Berikut dibawah ini dapat dilihat pada Gambar 4.7 untuk tampilan meja staff dua dimensi pada tampak depan beserta ukurannya, pada Gambar 4.8 untuk tampilan meja staff dua dimensi pada tampak samping ukurannya, dan pada Gambar 4.9 dapat dilihat tampilan meja staff tiga dimensi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2. Analisis

Bagian ini terbagi atas analisis produk dan analisis perbandingan produk, yang berisikan tentang penjelasan analisis dari rancangan meja staff yang disesuai dengan data antropometri yang digunakan. Berikut ini penjelasan analisis dari rancangan produk  meja staff.

 

4.2.1 Analisis Produk

Meja staff yang dirancang, disesuaikan dari enam dimensi tubuh, yakni tinggi siku duduk (Tsd), lebar pinggang (Lpg), tinggi lutut duduk (Tld), panjang lengan bawah (Plb), jangkauan tangan ke depan (Jktd), dan rentangan tangan (Rt). Keseluruan dimensi tubuh yang digunakan untuk perancangan meja staff, memiliki rancangan detailnya, yakni tinggi siku duduk (Tsd) untuk menentukan tinggi meja staff, tinggi lutut duduk (Tld) untuk menentukan panjang dan lebar sekat, rentangan tangan (Rt) untuk menentukan panjang meja staff, jangkauan tangan ke depan (Jktd) untuk menentukan lebar meja staff, lebar pinggang (Lpg) untuk menentukan tinggi meja, dan panjang lengan bawah (Plb) untuk menentukan lebar laci.

Penentuan dimensi tubuh untuk perancangan meja staff menggunakan tipe perancang data ekstrim, dengan menggunakan persentil 95%. Menggunakan data ekstrim dengan persentil 95%, karena bertujuan agar hasil produk jadi dari keseluruhan rancangan meja staff yang disesuaikan dengan dimensi tubuh, dapat mengantisipasi ukuran meja staff yang tidak cukup memadai untuk pengguna yang mungkin bisa melampaui batas ukuran.

 

4.2.2 Analisis Perbandingan Produk

Perbandingkan meja staff yang telah dirancang dengan produk asli, yakni untuk meja staff yang telah dirancang telah disesuaikan dengan dimensi tubuh, sehingga memberikan kenyamanan. Meja staff yang dirancang memiliki laci yang dapat menyimpan berbagai dokumen dalam jumlah banyak serta tersedia sekat tersendiri untuk tempat menaruh tas dan juga diberikan pijakkan kaki.

Sedangkan produk asli tidak tersedia pijakkan kaki dan beberapa sekat, kemudian pada bagian kolong meja terdapat pembatas, sehingga tidak ada runag bergerak bebas untuk kaki seseorang yang sedang beraktivitas diatas meja staff tersebut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan diambil dari pembahasan dan analisis yang telah dilakukan dan menjawab dari tujuan. Berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil:

  1. Data yang digunakan untuk merancang ukuran tinggi meja staff adalah  tinggi siku duduk (Tsd), tinggi lutut duduk (Tld), rentangan tangan (Rt), jangkauan tangan ke depan (Jktd), lebar pinggang (Lpg), dan panjang lengan bawah (Plb).
  2. Tipe Perancangan yang digunakan dalam merancang meja staff adalah data ekstrim, dengan persentil yang digunakan adalah 95%.
  3. Ukuran perancangan meja staff, antara lain panjang meja adalah 160 cm, lebar meja adalah 84 cm, tinggi meja adalah 78 cm, panjang laci adalah 52 cm, lebar laci adalah 30cm, panjang sekat adalah 61 cm, dan lebar sekat adalah 25 cm.

4.   Kelebihannya meja staff yang dirancang adalah meja staff telah disesuaikan dengan dimensi tubuh manusia, sehingga memberikan kenyamanan saat digunakan. Kekurangan dari meja staff yang dibuat yakni meja staff hanya sesuai untuk populasi mahasiswa kelas 3id02, sehingga tidak sesuai untuk populasi para pengguna meja staff pada umumnya.

 

5.2 Saran

Berikut beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar pada proses pengukuran selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Saran yang dapat diberikan adalah data dimensi tubuh untuk mata kaki ditambah, sehingga untuk membuat pijakkan kaki pada meja dapat lebih mudah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nurmianto, Eko. 1991. Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Surabaya: Prima Printing.

Wignjosoebroto, Sritomo. 1993. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja. Surabaya: Guna Widya.

http://bambangwisanggeni.wordpress.com/2010/03/02/antropometri/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perancangan Bet Bola Pingpong

 

TUGAS ANALISIS PERANCANGAN KERJA 2

BET BOLA PINGPONG

Kelompok 1 : Nadya Jeans (30408928)

Muhamad Ridwan (30408564)

Dedi Fuadman (30408252)

Sigit Yulianto (30408793)

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bola pingpong adalah salah satu olahraga yang dimainkan. Bola pingpong ini juga banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun bola pingpong ini jarang dimainkan. Hal ini dikarenakan bermain bola pingpong dibutuhkan keahlian dan tempat bermain yang khusus yaitu meja untuk bermain bola pingpong. Karena hal ini jarang sekali ada yang mengembangkan peralatan untuk bermain bola pingpong.

Jarangnya masyarakat yang memainkan boal pingpong ini menyebabkan kurangnya inovasi peralatan bola pingpong seperti bet bola pingpong. Bet bola pingpong ini adalah salah satu peralatan yang sangat penting dalam bermain bola pingpong. Jika tidak ada bet maka permainan ini tidak dapat berlangsung dan juga jika bet ini tidak nyaman maka pemain akan kesulitan dalam memenagkan permaian. Oleh karena itu dirancanglah bet bola pingpong agar semakin nyaman dan dapat memiliki ukuran yang standar. Hal ini disebabkan karena bet pingpong sebelumnya tidak memiliki ukuran yang standar.

 

1.2 Identifikasi Masalah

Permasalahannya adalah bagaimana merancang ukuran dari bet bola pingpong sehingga nyaman digunakan.

 

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan manfaatnya pada perancangan Bet bola pingpong ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui data antropometri untuk menentukan ukuran dari perancangan bet bola pingpong.
  2. Menentukan ukuran standar dari perancangan bet bola pingpong.
  3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari bet bola pingpong yang dirancang.

 

 

1.4 Ruang Lingkup

Berikut ini adalah ruang lingkup yang digunakan sebagai batasan pada perancangan bet bola pingpong ini:

  1. Data primer yang digunakan adalah data wawancara kepada 10 orang.
  2. Data sekunder yang digunakan adalah data antropometri sebanyak 38 orang.
  3. Perhitungan menggunakan perhitungan rata-rata dan persentil.

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Antropometri

Antropometri berasal dari kata antropo (manusia) dan metri (ukuran). Antropometri yaitu studi yang berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interkasi manusia.

Antropometri menurut Nurmianto (1991) adalah kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan, serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Penerapan data antropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi dari satu distribusi normal. Antropometri mengkaji masalah tubuh manusia. Informasi ini diperlukan untuk merancang suatu sistem kerja agar menunjang kemudahan pemakaian, keamanan dan kenyamanan dari suatu pekerjaan, sehingga antropometri dapat juga diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi tubuh (termasuk bentuk dan ukuran tubuh dengan desain alat-alat yang digunakan manusia.

Antropometri membicarakan ukuran tubuh manusia dan aspek-aspek segala gerakan manusia maupun postur dan gaya-gaya yang dikeluarkan, dengan bantuan dasar-dasar antropometri, maupun aspek-aspek pandangan dan medan visual, dapat membantu mengurangi beban kerja dan memperbaiki untuk kerja dengan cara menyediakan tata letak tempat kerja yang optimal, termasuk postur kerja yang baik serta landasan yang dirancang dengan baik.

Antropometri merupakan bagian dari ergonomi yang secara khusus mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi linear, serta, isi dan juga meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh. Secara devinitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan ukuran dimensi tubuh manusia meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh manusia.

Salah satu pembatas kinerja tenaga kerja, guna mengatasi keadaan tersebut diperlukan data antropometri tenaga kerja sebagai acuan dasar desain sarana prasarana kerja. Antropometri sebagai salah satu disiplin ilmu yang digunakan dalam ergonomi memegang peran utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana kerja. Antropometri dapat dibagi menjadi:

  1. Antropometri Statis

Pengukuran dimensi linear tubuh manusia dalam posisi statis (diam). Posisi pengukuran ini biasanya sudah distandarkan.

  1. Antropometri Dinamis

Pengukuran posisi anggota badan sebagai hasil dari gerakan tubuh, contohnya adalah sudut putar pergelangan tangan dan sudut putar pergelangan kaki.

 

2.2 Data Antropometri

Data antropometri adalah rata-rata dari hasil pengukuran yang digunakan sebagai data untuk perancangan peralatan. Mengingat bahwa keadaan dan ciri dapat membedakan satu dengan yang lainnya, maka dalam perancangan yang digunakan data antropometri menurut Wignjosoebroto (2003) terdapat tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim (minimum atau maksimum). Prinsip ini digunakan apabila seseorang mengharapkan agar fasilitas yang akan dirancang tersebut dapat dipakai dengan enak dan nyaman oleh sebagian besar orang-orang yang akan memakainya. Contohnya adalah ketinggian kontrol maksimum digunakan tinggi jangkauan ke atas dari orang pendek, ketinggian pintu disesuaikan dengan orang yang tinggi dan lain-lain.
  2. Prinsip perancangan fasilitas yang biasa digunakan. Prinsip ini digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut dapat menampung atau bisa dipakai dengan eank dan nayaman oleh semua orang yang mungkin memerlukannya. Biasanya rancangan ini memerlukan biaya lebih mahal tetapi memiliki fungsi yang lebih tinggi. Contohnya adalah kursi kemudi yang bisa diatur maju dan mundur serta kemiringan sandarannya, tinggi kursi sekretaris atau tinggi permukaan mejanya.
  3. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakainya. Prinsip ini hanya digunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan bisa lebih banyak rugi dari pada untungnya, ini berarti hanya sebagian kecil dari orang-orang yang merasa enak dan nyaman ketika menggunakan fasilitas tersebut.

Data anropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:

  1. Perancangan area kerja (work station, mobile, interir dan lainnya)
  2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas dan sebagainya.
  3. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja dan sebagainya.
  4. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa data antropometri dapat menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasi dimensi lain dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut.

Proses untuk mendesain peralatan kerja secara ergonomi yang digunakan dalam lingkungan sehari-hari atau mendesain peralatan yang ada pada lingkungan seharusnya disesuaikan dengan manusia di lingkungan tersebut. Apabila tidak ergonomis akan menimbulkan berbagai dampak negatif dari manusia tersebut, dampak negatif bagi manusia tersebut akan terjadi dalam jangka waktu pendek (short term) maupun jangka panjang (long term).

Manusia pada umumnya berdeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia, yaitu:

  1. Umur atau Usia

Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan. Manusia dapat digolongkan atas beberapa kelompok usia yaitu balita, anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia.

  1. Jenis Kelamin

Pada umumnya dimensi tubuh pria dan wanita ada perbedaan yang signifikan diantara rata-rata dan nilai perbedaan ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen badannya daripada wanita. Oleh karenanya data antropometri sangat diperlukan dalam perancangan sebuah alat atau produk. Secara umum pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar, kecuali dada dan pinggul.

  1. Suku Bangsa

Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnik tertentu akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya.

4.   Jenis Pekerjaan atau Latihan

Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan atau rekan kerjanya.

2.3       Prinsip Perancangan Produk atau Fasilitas Dengan Ukuran Rata-Rata Data Antropometri

Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia. Permasalahan pokok yang dihadadapi dalam hal ini justru sedikit sekali yang berbeda dalam ukuran rata-rata, sedangkan bagi yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan tersendiri.

Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa saran atau rekomendasi yang bisa diberikan sesuai langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pertama kali harus menetapkan anggota tubuh mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
  2. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, dalam hakl ini perlu juga diperhatikan apakah harus menggunakan data dimensi tubuh statis atau data dimensi tubuh dinamis.
  3. Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasi dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
  4. Tetapkan prinsip ukuran yang harus di ikuti, misalnya apakah rancangan untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang  fleksibel atau ukuran rata-rata.

2.4       Persentil

Persentil adalah suatu nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari orang yang memiliki ukuran pada atau dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh, persentil ke-95 akan menunjukkan 95% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran tersebut, sedangkan persentil ke-5 akan menunjukkan 5% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran itu. Dalam antropometri, angka persentil ke-95 akan menggambarkan ukuran manusia yang “terbesar” dan persentil ke-5 sebaliknya akan menunjukkan ukuran “terkecil”. Bilamana diharapkan ukuran yang mampu mengakomodasi 95% dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2.5-th dan 97.5-th persentil sebagai batasan-batasannya.

(http://bambangwisanggeni.wordpress.com/2010/03/02/antropometri/)

 

BAB III

METODOLOGI

3.1 Kerangka Pemikiran

Dibuatnya bet bola pignpong ini karena bet bola pingpong ini terbuat dari kayu dan karet dan desainnya yang tidak terlalu sulit. Bet bola pingpong ini juga belum banyak variasinya. Hal ini karena bola pingpong jarang dimainkan.

Bet bola pingpong yang akan dibuat ini akan ditambahkan handuk untuk bagian pemegangnya agar jika terlalu lama bermain keringat yang dihasilkan pada tangan dapat diserap. Ditambahkan handuk juga agar tidak licin memegang pemegang bet jika tangan basah. Sehingga pemain tidak harus selalu mengelap tangan jika terlalu lama bermain.

 

3.2 Teknik yang Digunakan

Dalam perhitungan digunakan rata-rata dan persentil 50%, juga digunakan rumus keliling segitiga. Dalam pengambilan data yang digunakan untuk merancang suatu produk olahraga seperti bet, kami melakukan pengambilan data dengan 2 cara yaitu dengan wawancara dan data antropometri.

 

3.2.1    Wawancara

Wawancara adalah suatu pengambilan data yang digunakan dengan bertanya langsung kepada koresponden atau orang yang ingin diwawancarai. Wawancara yang kami lakukan dengan bertanya kepada 10 orang berbeda dengan memberikan 5 pertanyaan setiap orangnya. Hasil wawancara tersebut adalah

1. Nama                       : Rama Fadila

Umur                       : 14 tahun

Jenis pekerjaan        : Pelajar

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Ada,  keluhan saya apabila terlalu mengeluarkan keringat maka tangan saya akan licin untuk memegang bet tersebut.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki berat yang tidak terlalu berat dan karet yang cukup lengket, sehingga jika bola dipukul tidak meleset.

2. Nama                       : Hery

Umur                        : 46 tahun

Jenis pekerjaan         : Karyawan

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1,5 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Ada, keluhan saya apabila karet bet  terlalu licin maka bola yang akan dipukul terkadang meleset dari pap yang saya inginkan.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki berat yang tidak terlalu berat dan karet yang cukup lengket, sehingga jika bola dipukul tidak meleset.

3. Nama                       : Muh. Yasin

Umur                        : 36 tahun

Jenis pekerjaan        : Karyawan

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Tidak ada, sejauh ini saya cukup nyaman atas bet yang saya gunakan

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki pegangan yang cukup untuk tangan agar tangan yang  digunakan nyaman dalam memegangnya.

4. Nama                       : Didit

Umur                        : 29 tahun

Jenis pekerjaan        : Karyawan

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 3 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Ada, keluhan saya apabila terlalu mengeluarkan keringat maka tangan saya akan licin untuk memegang bet tersebut.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki karet yang cukup bagus agar tidak meleset dalam melakukan pukulan.

5. Nama                       : Yudha. Ramadhona

Umur                        : 20 tahun

Jenis pekerjaan        : Mahasiswa

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, cukup  sering saya bemain tenis meja

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 3 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Tidak ada keluhan

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu dalam penggunaanya akan memberikan kenyamanan kepada penggunanya.

6. Nama                       : Gabriella.C

Umur                        : 20 tahun

Jenis pekerjaan         : Mahasiswa

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, lumayan sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Ada,  keluhan saya apabila terlalu mengeluarkan keringat maka tangan saya akan licin untuk memegang bet tersebut.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Karena saya wanita jadi bet yang baik itu tidak terlalu berat dan kuat.

7. Nama                       : Hasan. Muhasan

Umur                        : 56 tahun

Jenis pekerjaan         : Pensiunan

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Ada,  keluhan saya apabila terlalu mengeluarkan keringat maka tangan saya akan licin untuk memegang bet tersebut.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki karet yang cukup lengket, sehingga jika bola dipukul tidak meleset.

8. Nama                       : H. Jamil. Djafar

Umur                        : 58 tahun

Jenis pekerjaan         : Pensiunan

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Tidak ada.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki berat yang tidak terlalu berat dan karet yang cukup lengkap, sehingga jika bola dipukul tidak meleset.

9. Nama                       : Robby. Jauhari

Umur                        : 20 tahun

Jenis pekerjaan        : Mahasiswa

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Tidak ada keluhan

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki berat yang tidak terlalu berat, kuat dan karet yang cukup lengkap, sehingga jika bola dipukul tidak meleset.

10. Nama                     : Moch. Risky M

Umur                      : 20 tahun

Jenis pekerjaan       : Mahasiwa

1. Apakah anda sering bermain tenis meja?

Ya, saya sering bemain

2. Seberapa anda sering bermain tenis meja?

1 minggu bisa 2 kali saya bermain

3. Satu kali anda bermain berapa lama waktu yang gunakan?

1 hingga 2 jam

4. Apakah ada keluhan anda terhadap bet yang anda gunakan? Kalau ada jelaskan?

Ada, keluhan saya apabila terlalu mengeluarkan keringat maka tangan saya akan licin untuk memegang bet tersebut.

5. Menurut anda bet yang baik seperti apa?

Menurut saya bet yang baik itu memiliki berat yang tidak terlalu berat dan karet yang cukup lengkap, sehingga jika bola dipukul tidak meleset.

 

3.2.2    Data Antropometri

Data antropometri yang diambil berasal dari sebagian populasi yang berasal dari kelas 3ID02 dengan menggambil 38 sampel. Data antropometri tersebut sebagai berikut :

 

Tabel 3.1 Data Antropometri

No Pangkal Ke Tangan Tebal Tangan Lebar jari 2,3,4,5 Putaran telapak tangan Panjang Jari 3
1 10 3.2 6 65 7.4
2 11 3.5 8.3 22 7.7
3 10.5 3.5 7.5 41 7.8
4 11 3.4 7 42 8.3
5 10 3 7 50 8
6 10 3.5 8 60 9
7 10 4 7 68 7.5
8 10 4.5 8 75 9
9 10.5 2.5 8 50 8.5
10 12 3 8 50 8
11 12 3 8 40 8
12 9 3 7 55 8
13 10 4 8 33 8
14 10 4 8 38 8
15 11 5 7 48 8
16 11 5 8 60 9
17 11 5 8 70 8
18 10 4 7 160 8
19 10 4 8 67 9
20 10 3 9 60 9
21 9 4 7 67 7
22 10 4 9 72 8
23 10 4 8 70 8
24 11 2 9 80 8.2
25 11 2 7 70 8.5
26 10 3.5 9 90 7.5
27 8 2 6 66 6.5
28 11 4 8.5 53 7.5
29 10 4 8.5 50 7.5
30 11 4.5 8.5 49 8.5
31 10.5 4 8 58 8.5
32 11.5 3 10 30 10
33 11.5 3 12 60 10
34 11 3 11 42 11
35 9.5 3.5 7 70 9.5
36 10 4 7 80 8
37 10.5 3.5 7 70 9.5
38 10.5 4 7 100 9.5

3.3 Langkah Penyelesaian

Langkah penyelesaian yang digunakan dapat ditunjukkan dalam flowchart dibawah ini:

 

Gambar 3.1 Flowchart

Pertama-tama dalam bet bola pingpong ini didapatkan masalah adalah bagaimana cara mendapatkan bet bola pingpong yang nyaman dan ergonomis. Bagaimana bet bola pingpong yang ergonomis dan nyaman adalah dengan menambahkan handuk pada pegangan bet bola pingpong.

Langkah selanjutnya ialah mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk membuat bet bola pingpong itu agar nyaman yaitu dengan wawancara dan mengumpulkan data antropometri tubuh manusia.

Setelah data terkumpul maka langkahnya adalah memilih teknik yang digunakan untuk mengolah data yang telah dikumpulkan.

Analisis adalah langkah untuk menjelaskan dan melihat hasil yang telah diolah seperti apa. Hasil yang telah diolah apakah sudah sesuai dengan apa yang dihendaki dan dapat menjawab tujuan yang ingin diperoleh.

Setelah dianalisis maka langkah terakhir ialah membuat kesimpulan dari apa yang telah dikerjakan. Dari awal pengerjaan hingga apa yang diperoleh dengan pengolahan data.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1       Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dengan wawancara kepada 10 koresponden yang sering bermain tenis meja atau bola pingpong. Yang kedua yaitu dengan menggunakan data antropometri dari kelas 3ID02 sebanyak 38 sample. Data antropometri yang diambil yaitu hanya lebar telapak tangan, tebal tangan dan pangkal ke tangan.

 

4.2       Pengolahan Data

Pengolahan data dari data antropometri yang digunakan menggunakan statistik yaitu rata-rata dan persentil 50%. Digunakan persentil 50% disini menunjukkan bahwa kita menggunakan ukuran rata-rata dari sample yang berarti hampir semua orang dapat menggunakannya. Adapula rumus keliling lingkaran dan panjang busur lingkaran.

  1. Untuk panjang bet bola pingpong digunakan data telapak ke tangan yang dijumlahkan dengan panjang jari ke 3 yaitu:

a)      Mean =  =     =   18.747 = 18.75 cm

b)      Persentil 50%   =

= 18.75 cm

  1. Untuk tebal bet bola pingpong dan tebal gagang bet bola pingpong digunakan data tebal telapak tangan yaitu:

a)      Mean =  =     =   3.58 = 3.6 cm

b)      Persentil 50%   =

= 3.6 cm

  1. Untuk panjang gagang bet bola pingpong digunakan data lebar jari 2,3,4,5 yaitu:

a)      Mean =  =     =   7.95 = 8 cm

b)      Persentil 50%   =

= 8 cm

  1. Untuk ukuran jari-jari gagang bet digunakan rumus keliling lingkaran yaitu :

L = 2πr

18.75 = 2πr

R = 2.98 cm = 3 cm

  1. Untuk lebar dari bet bola pingpong digunakan data putaran telapak tangan sehingga lebarnya menyesuaikan dengan sudutnya yaitu :

a)      Mean =  =     =   61.34 º

Dengan menggunakan dua kali data lebar jari 2,3,4,5  akan didapat lebar :

Mean =  =     =   7.95 = 8 cm

2 kalinya menjadi 16 cm.

b)      Persentil 50%   =

= 16 cm

BAB V

ANALISIS

5.1       Analisis

Pada perhitungan ukuran-ukuran untuk bet bola pingpong digunakan persentil 50% agar dapat digunakan semua orang. Persentil 50% merupakan rata-rata dari hasil perhitungannya.

Untuk panjang bet bola pingpong digunakan data telapak ke tangan yang dijumlahkan dengan panjang jari ke 3 agar tangan dapat menjangkau seluruh permukaan bet. Alasannya lainnya yaitu agar pukulannya semakin baik karena tenaga yang dihasilkan lebih besar jika seluruh permukaan telapak tangan dapat menjangkau seluruh bet. Panjang bet bola pingpong yang didapat adalah 18.75 cm.

Untuk tebal bet bola pingpong dan tebal gagang bet bola pingpong digunakan data tebal telapak tangan agar bet bola pingpong tidak terlalu berat. Hal lainnya juga agar tangan tidak terlalu lelah memegang bola bet bola pingpong. Tebal bet bola pingpong dan tebal gagang bet bola pingpong yang didapat adalah 3.6 cm.

Untuk panjang gagang bet bola pingpong digunakan data lebar jari 2,3,4,5 agar gagang bet tidak kependekan atau kepanjangan ketika tangan menggenggam bet bola pingpong tersebut. Pada gagang juga akan ditambahkan inovasi handuk pada permukaannya agar gagang bet bola pingpong tidak licin ketika tangan pemain berkeringat. Panjang gagang bet bola pingpong yang didapatkan adalah 8 cm.

Untuk ukuran jari-jari gagang bet digunakan rumus selimut tabung agar tangan pas dalam megang bet bola pingpong. Jari-jari gagang bet bola pimgpong yang didapatkan adalah 3 cm.

Untuk lebar dari bet bola pingpong digunakan data putaran telapak tangan sehingga lebarnya menyesuaikan dengan sudutnya yaitu 61.34 º. Lalu dengan dua kali lebar jari 2,3,4,5 untuk lebar dari bet bola pingpong tersebut yaitu 16 cm. Hal ini digunakan agar lebar bet bola pingpong tidak terlalu besar maupun terlalu kecil. Hal lainnya juga sama seperti panjang bet bola pingpong yaitu agar tangan dapat menjangkau seluruh permukaan bet.

 

BAB VI

PENUTUP

6.1       Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diberikan dari laporan kali ini yaitu:

  1. Untuk panjang bet bola pingpong digunakan data telapak ke tangan yang dijumlahkan dengan panjang jari ke 3, untuk tebal bet bola pingpong dan tebal gagang bet bola pingpong digunakan data tebal telapak tangan, untuk panjang gagang bet bola pingpong digunakan data lebar jari 2,3,4,5 dan untuk lebar dari bet bola pingpong digunakan data putaran telapak tangan sehingga lebarnya menyesuaikan dengan sudutnya.
  2. Panjang bet bola pingpong yaitu 18.75 cm, lebar bet bola pingpong yaitu 16 cm, tebal bet bola pingpong dan tebal gagang bet bola pingpong yaitu 3.6 cm, panjang gagang bet bola pingpong yaitu 8 cm dan jari-jari dari gagang bet bola pingpong yaitu 3 cm.
  3. Kelebihan dari rancangan kali ini adalah adanya handuk pada gagang bet bola pingpong. Kekurangannya yaitu bet bola pingpong ini lebih cocok digunakan untuk mahasiswa kelas 3ID02 karena data yang digunakan adalah data mereka.

 

6.2       Saran

Saran yang dapat diberikan pada penulisan laporan kali ini adalah data yang diambil lebih banyak dan lebih memperhatikan lagi cara penulisannya.

DAFTAR PUSTAKA

Nurmianto, Eko. 1991. Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Surabaya: Prima Printing.

Wignjosoebroto, Sritomo. 1993. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja. Surabaya: Guna Widya.

http://bambangwisanggeni.wordpress.com/2010/03/02/antropometri/